Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Pertamina (Persero) mendorong kolaborasi pengembangan energi hijau bersama perusahaan minyak dan gas bumi (migas) di kawasan ASEAN. Upaya ini menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam gugus tugas Clean Energy Task Force ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) ke 51 yang digelar di The Meru Sanur, Denpasar, Bali.
Direktur Utama Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, mengatakan kolaborasi antarpelaku industri energi di ASEAN perlu dibangun dengan mengoptimalkan keunggulan masing-masing perusahaan. Menurut dia, setiap perusahaan memiliki kapabilitas, portofolio, dan kemampuan teknis yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi dalam mendorong pengembangan energi bersih di kawasan.
"Kan tiap ini kan punya kekuatan, perusahaan ini punya kekuatan yang berbeda-beda ya di dalam ASEAN ini. Baik itu dari segi capability perusahaannya, portofolionya, technical capability-nya, dan lain sebagainya. Nah bagaimana itu semua bisa disinergikan gitu. Bagaimana itu bisa disemuanya menjadi kekuatan," jabar dia saat ditemui disela gelaran ASCOPE Selasa (27/10/2026).
John membocorkan, salah dua inisiatif di bidang energi bersih (clean energy) yang menjadi pembahasan, yakni pengembangan biometana dan ASEAN Power Grid (APG). Kedua inisiatif tersebut dinilai membuka peluang bagi negara-negara ASEAN untuk mengoptimalkan potensi energi yang dimiliki melalui kerja sama lintas negara.
"Misalnya kita (Pertamina) dengan SLNG ya Singapore LNG, kita mengembangkan biometan. Biometan dari biogas yang ada di apa namanya pabrik-pabrik kelapa sawit kita," tambahnya.
Kolaborasi antara Pertamina NRE dan Singapore LNG Corporation tersebut diarahkan untuk mengembangkan bio-liquefied natural gas (Bio-LNG) dengan memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) sebagai bahan baku. Pengembangan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah limbah industri kelapa sawit melalui pemanfaatan biogas menjadi sumber energi yang berpotensi digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi.
Kesepakatan kerja sama tersebut ditandatangani langsung oleh Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, dan CEO Singapore LNG Corporation, Leong Wei Hung, di sela-sela forum 50th ASCOPE Council Meeting di Bangkok, Thailand, pada tahun lalu.
"Nah ini biometannya bisa kita kirim baik itu domestik maupun juga untuk ekspor kalau memang ada kebutuhannya. Hal-hal seperti itu yang kita bicarakan, kita dorong terus kerja sama dari masing-masing negara," sambungnya.
Selain pengembangan biometana, inisiatif ASEAN Power Grid (APG) juga menjadi salah satu fokus pembahasan dalam forum tersebut.
APG sendiri merupakan inisiatif kerja sama regional untuk menghubungkan infrastruktur jaringan listrik antarnegara anggota ASEAN. Melalui konektivitas tersebut, negara-negara di kawasan diharapkan dapat saling bertukar energi listrik sesuai dengan potensi, kebutuhan, dan kapasitas masing-masing.
"ASEAN Power Grid itu kan sudah lama ya dibicarakan bagaimana nanti ada grid yang dioperasikan bersama-sama di mana nanti antar negara ASEAN itu bisa saling bertukar energi," jabarnya.
Meski berpotensi memperkuat ketahanan energi regional, implementasi APG masih menghadapi sejumlah tantangan. Selain membutuhkan pembangunan infrastruktur jaringan listrik lintas negara, inisiatif ini memerlukan penyelarasan regulasi dan perangkat hukum yang berlaku di setiap negara anggota ASEAN.
Baca Juga: Pertamina Siap Jalankan Penugasan Pemerintah untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Energi Nasional, Pertamina Kaji Teknologi Distribusi Gas Bersama Mitra Jepang
"Tapi kan itu (APG) tidak mudah. Selain berbicara masalah infrastruktur yang harus dibangun, juga harus perangkat hukumnya, perangkat aturannya. Aturannya tiap negara berbeda-beda, jadi itu kan harus juga nanti mulai diselaraskan," tandasnya.
Di samping pengembangan proyek energi bersih dan integrasi jaringan listrik, Clean Energy Task Force juga membahas peluang kolaborasi dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarpelaku industri migas di kawasan ASEAN.
Kerja sama ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya dalam penguasaan teknologi, pengembangan kapasitas, dan implementasi energi bersih di masing-masing negara.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: