Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BRIN Kembangkan Prediksi Karhutla hingga Enam Bulan dan Deteksi Titik Api via Satelit

BRIN Kembangkan Prediksi Karhutla hingga Enam Bulan dan Deteksi Titik Api via Satelit Kredit Foto: NASA Earth
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah memvalidasi model untuk memprediksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga beberapa bulan ke depan. BRIN juga akan memanfaatkan citra satelit untuk mendeteksi titik api dan meneruskan hasilnya kepada instansi terkait.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, proses validasi dilakukan untuk membangun kemampuan memprediksi potensi karhutla dalam rentang tiga hingga enam bulan mendatang.

Pengembangan riset tersebut merupakan tindak lanjut atas instruksi Presiden Prabowo Subianto agar BRIN membantu mengatasi persoalan karhutla.

Menurut Arif, kemampuan memprediksi potensi kebakaran penting untuk mendukung langkah antisipasi sebelum api meluas.

Selain mengembangkan model prediksi, BRIN akan mengoptimalkan citra satelit untuk mengidentifikasi lokasi titik api.

Hasil deteksi tersebut akan diteruskan kepada kementerian dan lembaga terkait agar dapat ditindaklanjuti di lapangan. Instansi yang disebut antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan.

BRIN juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi untuk menguji model perambatan api. Riset ini ditujukan untuk memahami pola penyebaran api sehingga upaya pencegahan dan penanganan karhutla dapat dipersiapkan lebih baik.

Arif mengatakan, pengembangan model perambatan api masih berlangsung.

Baca Juga: Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla Siap Diuji, BRIN Sudah Kantongi Bahan Baku

Untuk penanganan karhutla dalam jangka pendek, BRIN berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BNPB, Kementerian Kehutanan, serta TNI Angkatan Udara dalam operasi modifikasi cuaca (OMC).

Salah satu upaya yang dilakukan adalah penaburan es kering (dry ice) sebelum pelaksanaan OMC menggunakan garam atau natrium klorida (NaCl).

Arif menyebut operasi tersebut telah diikuti turunnya hujan di sejumlah wilayah. Upaya modifikasi cuaca itu menjadi bagian dari langkah penanganan karhutla, sementara riset prediksi dan deteksi berbasis satelit terus dikembangkan untuk memperkuat antisipasi jangka panjang.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat