Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Makin Tertekan, Rupiah Dibuka Melemah di Level Rp18.171 per USD

Makin Tertekan, Rupiah Dibuka Melemah di Level Rp18.171 per USD Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah pada awal perdagangan Rabu (28/10/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp18.171 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,08% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp18.156 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah pada hari ini fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.130 - Rp18.180. Sedangkan dalam perdagangan minggu ini di rentang Rp17.900 - Rp18.250.

Ibrahim menyampaikan pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh dinamika pasokan bahan bakar dalam negeri.

Pemerintah satu sisi memastikan bahwa pasokan bahan bakar tetap memadai; stok bahan bakar bersubsidi cukup untuk kebutuhan 16–18 hari, sementara persediaan jenis bahan bakar lainnya berada di atas ketentuan minimum. 

Pernyataan pemerintah mengenai kecukupan stok BBM tersebut, kata Ibrahim, memberikan indikasi bahwa risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek dapat dikelola. 

"Akan tetapi, kondisi tersebut tidak otomatis menjamin bahwa APBN terbebas dari tekanan akibat kenaikan harga minyak dunia," kata dia kepada wartawan.

Menurut Ibrahim, kebijakan yang perlu diperhatikan mencakup pengelolaan cadangan energi, pengawasan penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran, pengendalian konsumsi energi, serta pengelolaan risiko harga minyak dan nilai tukar. 

Baca Juga: IHSG Ambruk Hampir 2%, Rupiah Ikut Loyo ke Rp18.135 per Dolar AS

Baca Juga: Rupiah Tertekan di Rp18.135, Inflasi Pangan Jadi Perhatian

Efektivitas kebijakan tersebut perlu dinilai berdasarkan data aktual mengenai harga minyak, realisasi subsidi dan kompensasi energi, serta kondisi fiskal pemerintah. Intinya, kecukupan stok BBM berkaitan dengan ketahanan pasokan, sedangkan keberlanjutan subsidi berkaitan dengan kemampuan fiskal negara. Keduanya saling berhubungan, tetapi tidak dapat disamakan.

Selain itu, kekhawatiran inflasi di tengah tingginya harga pangan merupakan persoalan ekonomi yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, stabilitas harga, dan pertumbuhan ekonomi. 

Secara ekonomi, kenaikan harga pangan dapat mendorong inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation), khususnya apabila kenaikan tersebut disebabkan oleh gangguan produksi, perubahan cuaca, distribusi yang tidak lancar, atau meningkatnya biaya transportasi dan pupuk. 

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: