Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Program Desa Energi Berdikari (DEB) PT Pertamina (Persero) menjadi buah bibir dalam gelaran 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) yang dilaksanakan di Sanur, Denpasar, Bali. Para delegasi National Oil Company (NOC) se-Asia Tenggara memuji strategi Pertamina yang tidak hanya fokus dalam bisnis migas, tetapi juga memiliki program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dalam rangkaian gelaran ini, delegasi NOC berkesempatan melihat secara langsung Subak Sembung Uma Palak Lestari di Jalan Ahmad Yani Utara, Gang Uma Palak, Kelurahan Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali, sebagai salah satu contoh sukses program DEB Pertamina.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita menjelaskan, agenda mengunjungi program CSR seperti ini merupakan kali pertama dilakukan oleh NOC dalam gelaran ASCOPE yang saat ini sudah menginjak lebih dari setengah abad.
“Tapi yang spesifik terkait dengan ini (CSR) di sini, hari ini. Karena tadi aku melihat dari antusiasme para tamunya, itu mereka bilang, ‘Ini kita belum pernah lihat yang seperti ini sebelumnya.’ Itu dari testimoni mereka,” ungkap Arya selepas menerima para delegasi NOC di Uma Palak Lestari, Kamis (29/10/2026).
Melihat keberhasilan program yang dilakukan, kata Arya, para NOC berniat mereplikasi program serupa untuk diterapkan di negara asalnya.
Dengan sentuhan dingin Pertamina, Uma Palak Lestari berhasil disulap menjadi Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang tidak hanya mampu memberikan multiplier effect bagi 35 anggota kelompok, tetapi juga berhasil menjaga ketahanan pangan di desa sekaligus menjadi kawasan ekowisata edukasi yang menarik minat pengunjung lokal dan mancanegara karena keindahan dan keasrian lahan pertanian di sana. Dalam setahun, kelompok ini mampu menghasilkan pendapatan hingga US$ 32.500.
“Artinya, multiplier effect dan multiplier apa namanya, benefit-nya itu sangat alhamdulillah ya, luar biasa dan itu karena kita bersama mereka, bukan Pertamina aja, bukan hanya kita cuma ngasih, tapi kita bersama mereka, karena mereka yang membangun ini semua gitu. Kita menjadi katalis, menjadi energi, energi yang mendorong. Kalau kita sendirian, mungkin nggak akan sebesar itu,” jabarnya.
Saat ini, kata Arya, program DEB Pertamina sudah menjangkau 310 titik di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, desa yang sudah mandiri mencapai 62 titik. Arya menegaskan, keberhasilan program juga harus diukur dari kemampuan masyarakat untuk melanjutkannya secara mandiri tanpa terus bergantung pada pendampingan Pertamina. “Harus ada exit strategy. Kan kemandirian. Kalau ada kita terus, nggak berdikari namanya,” tandasnya.

Pekaseh atau Ketua Subak Sembung I Made Darayasa mengatakan, sebelum Pertamina hadir, petani menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan peralatan pertanian, terutama untuk mendukung kegiatan teknis di lahan. Persoalan lain muncul ketika musim kemarau tiba, saat pasokan air tidak mencukupi kebutuhan petani, khususnya yang menggarap sawah di wilayah hilir. Kondisi tersebut membuat petani harus mengatur penggunaan air agar kegiatan tanam tetap bisa berjalan.
Salah satu bantuan yang dinilai paling menonjol adalah SIUMA (Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak). Program ini memanfaatkan kincir air dan panel surya untuk menggerakkan pompa yang mengangkat kembali air sungai yang sebelumnya terbuang, kemudian menyalurkannya ke sawah petani di wilayah hilir.
Selain mendukung irigasi, energi yang dihasilkan juga dimanfaatkan untuk penerangan jalan usaha tani sehingga aktivitas petani dan pengunjung dapat berlangsung lebih nyaman.
Made mengatakan, keberadaan SIUMA membantu mengurangi persoalan perebutan air yang sebelumnya kerap terjadi saat musim kemarau. “Sebelum ada SIUMA, petani kami yang ada di ujung, di hilir, itu berebutan air di musim kemarau. Semenjak adanya SIUMA ini, bisalah petani kami untuk memberikan sawahnya air. Artinya, air yang terbuang itu dinaikkan dengan SIUMA, terus air itu dialirkan ke sawah-sawah kami yang berada di hilir,” ungkapnya.
Selaras dengan itu, Ketua Komunitas Uma Palak Lestari Wayan Sukadana menjelaskan, pemanfaatan aliran sungai melalui sistem mikrohidro menjadi salah satu upaya agar kegiatan pertanian tetap berjalan di tengah keterbatasan air. Dukungan Pertamina juga mencakup perbaikan irigasi, penyediaan pupuk organik dan bibit, serta pengembangan sarana pendukung kawasan pertanian.
Selain membantu pengairan, pemanfaatan energi listrik juga mendukung efisiensi kegiatan pertanian. Petani dapat menggunakan peralatan seperti traktor listrik untuk mengolah lahan tanpa harus selalu mengandalkan mesin berbahan bakar minyak atau menyewa jasa pengolahan tanah dari luar. Baterai peralatan tersebut dapat diisi menggunakan energi yang dihasilkan dari sistem pembangkit di kawasan itu.
Baca Juga: Maknai Sumpah Pemuda, Pertamina Dorong Anak Muda Jadi Penggerak Inovasi Indonesia
Di sisi lain, pengembangan pertanian dan kawasan edukasi turut membuka peluang bagi petani untuk menjual hasil panen secara langsung kepada pengunjung serta mengembangkan kegiatan edukasi pertanian.
Wayan mengatakan, bantuan yang diberikan Pertamina tidak hanya menyasar kebutuhan energi, tetapi juga mendukung kegiatan pertanian dan pengembangan kawasan secara lebih luas.
“Dibantu Pertamina banyak. Satu, dari segi irigasi juga dibantu perbaikannya, pupuk organik, terus bibit, terus sarana perbaikan jalan juga beberapa, terus sarana-sarana seperti camping ground, panel surya, balai belajar, itu semua dari Pertamina,” tutup Wayan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: