Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Skenario Horor Rupiah Tembus Rp22.000/Dolar, BI: Tenang, Kita Punya Banyak Instrumen

Skenario Horor Rupiah Tembus Rp22.000/Dolar, BI: Tenang, Kita Punya Banyak Instrumen Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) tengah menyiapkan diri menyusul ancaman meledaknya beban utang luar negeri akibat proyeksi nilai tukar rupiah yang disinyalir bisa menyentuh Rp22.000/Dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memastikan bahwa bank sentral tidak akan tinggal diam membiarkan mata uang rupiah terjerembab ke level terendahnya. 

Baca Juga: Adik Prabowo: Bohong Kalau Ada yang Bilang Indonesia Gelap karena Dibebani Utang

Destry menggarisbawahi bahwa bank sentral tidak hanya memiliki satu jurus dalam menghadapi gempuran tekanan nilai tukar. Publik dan investor kerap berasumsi bahwa menaikkan suku bunga acuan adalah satu-satunya obat kuat untuk menarik aliran modal asing (capital inflow), padahal langkah tersebut ibarat pedang bermata dua yang bisa mencekik kredit sektor riil.

"Kita lihat perkembangannya seperti apa, karena kita punya kebijakan banyak instrumennya, tidak hanya suku bunga saja," ungkap Destry dikutip Jumat (30/10/2026).

Destry membeberkan deretan "senjata pamungkas" yang siap dilepaskan bank sentral ke pasar jika rupiah terus ditekan. Instrumen lapis baja tersebut meliputi pemberian insentif untuk menekan biaya lindung nilai (hedging) bagi para pelaku usaha, intervensi melalui kebijakan makroprudensial, hingga optimalisasi instrumen dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Adapun Destry menyatakan pihaknya akan menerapkan strategi wait and see berbasis data dalam menghadapi kemungkinan pelarian modal asing dari Indonesia.

"Semua lihat kondisi di pasar ya. Kita lihat nanti bagaimana," ujarnya.

Sebelumnya Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo secara terbuka menyuarakan kekhawatiran mendalamnya terkait ancaman badai ekonomi yang siap menghantam stabilitas nilai tukar rupiah.

Ia khawatir, jika capital flight atau pelarian modal asing secara besar-besaran ini benar-benar terjadi, fundamental ekonomi nasional akan langsung goyah.

"Kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung bisa Rp 20.000 sampai Rp 21.000. Ada yang bilang Rp 22.000," ungkap Hashim.

Potensi pelemahan nilai tukar yang ekstrem ini diyakini tidak hanya akan menghancurkan daya beli masyarakat, tetapi juga melipatgandakan beban utang negara. Hashim mengaku telah melakukan pembicaraan serius tingkat tinggi mengenai skenario terburuk ini dengan Bos Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani.

Baca Juga: Utusan Khusus Prabowo: Mulai 9 November 2026, Semua Transaksi Digital Wajib Dipungut Pajak

"Saya pernah diskusi sama Pak Rosan. Kalau itu terjadi rupiah bisa Rp 21.000-Rp 22.000, pinjaman luar negeri kita harus kita bayar lebih mahal, ini bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia," tegas Hashim.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar