Selat Hormuz Jadi Penentu Nasib Ekonomi Timur Tengah pada 2027
Kredit Foto: Istimewa
Jalur pelayaran Selat Hormuz menjadi salah satu penentu realisasi pertumbuhan ekonomi negara di Timur Tengah pada 2027. Berdasarkan International Monetary Fund (IMF), diperkirakan normalisasi pengiriman energi melalui jalur tersebut akan mendukung pemulihan produksi dan ekspor, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi Irak, Qatar, dan Kuwait hingga lebih dari 17%.
Jika ditilik dari laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2026, Irak diproyeksikan mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil sebesar 19% pada 2027. Qatar menyusul dengan proyeksi 18,8%, sedangkan Kuwait diperkirakan tumbuh 17,1%.
Ketiganya menempati posisi teratas dalam daftar negara dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.
Sedangkan, yang paling lambat atau akan terkontraksi pada 2027 adalah Bolivia dengan proyeksi sebesar -1,5%, Guinea Ekuatorial sebesar -1,0%, dan Haiti sebesar -0,5%.
Baca Juga: Tak Hanya AS yang Lumpuh, Iran Ancam Putus 7 Kabel Internet di Bawah Selat Hormuz
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Brent Naik ke US$101,53
Adapun proyeksi tersebut bergantung pada pemulihan aktivitas energi setelah konflik Iran serta kelancaran kembali pengiriman melalui Selat Hormuz. IMF memperkirakan, jalur pelayaran tersebut akan kembali beroperasi secara bertahap pada Maret 2027 dan secara umum mendekati kondisi sebelum perang pada Oktober 2027.
Melansir dari Visual Capitalist, ke depannya, kelancaran pengiriman melalui Selat Hormuz menjadi faktor penting dalam pemulihan aktivitas ekonomi kawasan. Jika jalur tersebut nantinya kembali beroperasi sesuai asumsi IMF, maka kegiatan ekspor energi bisa berpeluang pulih dan pertumbuhan negara-negara produsen minyak dan gas bisa terdorong.
Namun, jika tertunda, proyeksi pertumbuhan tersebut berisiko tidak tercapai sesuai perkiraan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: