'Jangan Cuci Tangan', PDIP Disebut yang Harusnya Dikritik soal Kisruh Ijazah Gibran
Kredit Foto: Twitter/Gibran Rakabuming
Putusan Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan surat keterangan (suket) penyetaraan ijazah SMA milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka batal dan tidak sah masih memunculkan perdebatan.
Kali ini, pegiat media sosial Hasyim Muhammad mengarahkan kritik kepada PDI Perjuangan (PDIP), partai yang mengusung Gibran saat maju dalam Pemilihan Wali Kota Solo.
Hasyim menilai, persoalan suket tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada Gibran. Menurutnya, jika prosedur administrasi yang digunakan sejak pencalonan Gibran sebagai Wali Kota Solo dipersoalkan, seluruh pihak yang terlibat dalam proses tersebut juga perlu mendapat perhatian, termasuk partai pengusung.
Baca Juga: MA Batalkan Suket Gibran, Ferdinand: Karma Politik Jokowi Mulai Mendekat
"Soal Suket, itu adalah soal prosedur administrasi sejak Cawali Solo. Kalo itu disalahkan, ya semua yang terlibat saat Pilwali Solo ya harusnya terlibat. Termasuk PDIP sebagai partai pengusung," tulis Hasyim di akun X, dikutip Senin (2/11/2026).
Ia pun mempertanyakan sikap PDIP yang tidak seharusnya lepas tangan dalam polemik tersebut.
"Makanya saya kritik PDIP soal Suket. Jangan seenaknya cuci tangan," sebutnya.
Hasyim juga membantah anggapan bahwa dirinya merupakan pendukung Gibran hanya karena membela persoalan ijazah sang Wakil Presiden. Ia mengklaim selama ini justru tidak pernah mendukung maupun memilih Gibran.
"Anda tahu nggak selama ini saya mengkritik Gibran? Anda tahu nggak selama ini saya nggak pernah dukung dan nggak pernah pilih Gibran?" ungkap dia.
Menurut Hasyim, pembelaannya dalam persoalan ijazah didasarkan pada pandangan bahwa seseorang di luar negeri memungkinkan memiliki ijazah S1 secara sah tanpa harus memiliki ijazah SMA. Karena itu, ia menilai pembelaan terhadap aspek administrasi pendidikan tidak otomatis berarti mendukung Gibran secara politik.
"Anda tahu nggak saya bela ijazah Gibran karena di luar negeri memungkinkan orang punya ijazah S1 secara sah tanpa ijazah SMA?" ujarnya.
Baca Juga: Akbar Faizal: Pak Jokowi, Anakmu Tak Layak, Kami Melihat Penderitaan Dia
Ia juga mempertanyakan anggapan bahwa dirinya tidak objektif atau menjadi penjilat Gibran hanya karena menyampaikan pembelaan dalam satu persoalan tersebut.
"Bagaimana mungkin saya CUMA BELA GIBRAN di masalah ijazah (karena dia punya ijazah S1) dibilang nggak obyektif?Bagaimana mungkin hanya membela Gibran di kasus ini langsung dianggap penjilat Gibran?" lanjut dia.
"Mikir sedikit seharusnya bisa sih. Itu kalau mau pakai otak aja sih. Sekali lagi, saya nggak bela Gibran. Sampai sekarang pun saya nggak dukung Gibran. Nggak ada hubungan sama Gibran! Saya membela siapapun yang ketika punya ijazah S1 (secara sah), berarti sudah memenuhi syarat administrasi pendidikan minimal SMA," tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Hasyim kembali menyindir pihak-pihak yang melabelinya sebagai pendukung Gibran. Ia menilai tudingan tersebut muncul karena mereka tidak memahami argumen yang disampaikannya.
"Mikir kayak begini aja nggak paham?Sukanya cuma ngata-ngatain orang. Ya begitulah kalo fanatik dan nggak punya argumentasi," lanjut dia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri