- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Berpeluang Technical Rebound, tetapi Tekanan Asing dan Geopolitik Masih Membayangi
Kredit Foto: Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami technical rebound dalam jangka pendek, meskipun tekanan bearish masih membayangi pergerakan pasar saham domestik. Investor perlu mencermati sejumlah sentimen eksternal dan domestik, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arus keluar dana asing, serta implementasi kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait pengecualian saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa secara teknikal pergerakan IHSG berpotensi membentuk pola dead-cat bounce setelah terdeteksinya gelombang koreksi wave [iv].
"Secara teknikal, IHSG berpeluang mengalami dead-cat bounce setelah terdeteksinya wave [iv]. Kendati demikian, investor tetap perlu mewaspadai tekanan bearish karena indikator Stochastics K_D dan RSI masih berada dalam kategori negatif. Di sisi lain, peningkatan volume perdagangan mulai terlihat dan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam mengidentifikasi potensi pembalikan arah," ujar Nafan dalam keterangan risetnya, Senin (2/11/2026).
Untuk perdagangan hari ini, IHSG memiliki level support di posisi 4.969 dan 4.907. Sementara itu, level resistance berada pada 5.246 dan 5.326.
Tekanan terhadap pasar saham juga tercermin dari aktivitas investor asing. Tercatat daily net foreign sell IHSG mencapai Rp172,43 miliar, sedangkan akumulasi year-to-date (YTD) net foreign sell telah mencapai Rp126,20 triliun. Sepanjang tahun berjalan, IHSG juga mencatatkan kinerja negatif sebesar 41,52%.
Dari sisi global, penguatan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu sentimen yang membayangi pasar. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah muncul spekulasi bahwa pemerintah Amerika Serikat tengah mempertimbangkan opsi aksi militer baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada 3 November 2026.
Kondisi tersebut memupus harapan tercapainya penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi semakin meningkat menyusul insiden keamanan dan ancaman terhadap infrastruktur energi strategis di kawasan Teluk, termasuk potensi gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Sentimen negatif lainnya datang dari industri aset kripto. Peretasan besar-besaran yang melibatkan bursa Binance meningkatkan kecemasan investor terhadap keamanan ekosistem kripto. Kondisi ini turut menekan pergerakan Bitcoin dan memperbesar ketidakpastian di pasar aset berisiko.
Selain itu, ketidakpastian politik menjelang pemilu sela AS juga memicu kekhawatiran mengenai arah kebijakan regulasi, termasuk potensi pengetatan aturan terhadap pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sementara dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada implementasi kebijakan baru BEI yang mulai berlaku hari ini, yakni mengecualikan 81 saham kategori HSC dari perhitungan IHSG.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari agenda reformasi pasar modal untuk meningkatkan transparansi, kredibilitas indeks, dan kepercayaan investor. Langkah ini juga menjadi respons terhadap perhatian MSCI mengenai transparansi kepemilikan saham di Indonesia serta risiko reklasifikasi status pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Meski demikian, implementasi kebijakan tersebut berpotensi memicu penyesuaian komposisi dan bobot indeks sehingga pergerakan IHSG pada awal perdagangan perlu dicermati. Di sisi lain, pengecualian saham HSC diharapkan dapat meningkatkan kualitas representasi indeks dengan memberikan porsi lebih besar terhadap saham-saham yang memiliki kepemilikan publik memadai.
Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi domestik yang dirilis hari ini, meliputi PMI manufaktur Oktober, inflasi Oktober, serta neraca perdagangan September.
Berdasarkan estimasi Trading Economics, PMI manufaktur Oktober diperkirakan berada di level 51,9, lebih rendah dibandingkan posisi sebelumnya 52,4. Sementara itu, inflasi tahunan diproyeksikan mencapai 3,3%, sedikit meningkat dari sebelumnya 3,28%.
Adapun neraca perdagangan September diperkirakan mencatatkan surplus sebesar USD3,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus bulan sebelumnya sebesar US$3,55 miliar.
Baca Juga: Simulasi IHSG Tanpa Saham HSC Tembus 6.120, Bobot Bank Besar Makin Dominan
Baca Juga: IHSG Ambruk 7,03% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp721 Triliun
Ketahanan aktivitas manufaktur, stabilitas inflasi, serta surplus perdagangan yang tetap terjaga berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham domestik. Sebaliknya, inflasi yang melampaui ekspektasi atau penyusutan surplus perdagangan dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan persepsi risiko investasi Indonesia.
Di tengah kondisi pasar yang masih sarat ketidakpastian, Nafan menyarankan investor untuk tetap selektif dalam menentukan strategi investasi.
"Investor sebaiknya memprioritaskan saham-saham pilihan yang memiliki fundamental solid dan valuasi menarik atau masih berada dalam kategori undervalued. Selain itu, saham-saham yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan arah (reversal) dapat dicermati sebagai peluang, tentunya dengan tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin," pungkasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: