Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengecualikan 81 saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai Senin (2/11/2026).
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penyesuaian metodologi indeks yang dilakukan BEI untuk meningkatkan kredibilitas dan representasi IHSG terhadap pergerakan pasar saham domestik.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pengeluaran saham-saham HSC dari perhitungan IHSG diperkirakan tidak akan menyebabkan penurunan drastis maupun lonjakan indeks pada awal penerapannya.
Pasalnya, bobot saham yang dikeluarkan akan didistribusikan kembali kepada saham-saham lain yang tetap menjadi konstituen IHSG.
"Dalam implementasi awal, tentu tidak akan mengakibatkan penurunan drastis, ya sama seperti kalau kita mengeluarkan saham tertentu, distribusi dari bobot itu akan diberikan kepada sisa saham-saham lain yang masih ada di dalam konstituen indeks," ujar Jeffrey, dikutip Senin (2/11/2026).
Menurutnya, setelah penyesuaian dilakukan, pergerakan IHSG tetap akan ditentukan oleh perubahan harga saham-saham yang menjadi konstituen indeks.
Langkah tersebut merupakan kelanjutan dari kebijakan BEI yang sebelumnya telah mengecualikan saham berkategori HSC dari sejumlah indeks utama lainnya, yakni IDX30, LQ45, dan IDX80.
BEI juga telah melakukan pengujian historis atau backtest untuk memperkirakan dampak perubahan komposisi saham terhadap pergerakan IHSG.
Berdasarkan hasil pengujian tersebut, pengeluaran saham HSC dinilai tidak akan menimbulkan lonjakan indeks secara langsung akibat perubahan metodologi.
"Kami sudah melakukan backtest bahwa dengan pengeluaran saham-saham HSC, tidak akan mengakibatkan lonjakan, tetapi dapat mengakibatkan IHSG kita yang lebih kredibel, yang dapat digunakan lebih baik oleh para investor dalam melakukan tracking terhadap indeks kita," kata Jeffrey.
Sementara itu, Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menjelaskan bahwa sebanyak 81 saham HSC yang dikeluarkan dari perhitungan IHSG memiliki bobot sekitar 18% terhadap indeks tersebut.
Adapun kapitalisasi pasar saham-saham yang masuk kategori HSC mencapai sekitar 30% dari total kapitalisasi pasar saham di BEI.
Meski porsinya cukup besar, Iding memastikan pengeluaran saham HSC dari IHSG tidak akan mengurangi nilai kapitalisasi pasar secara keseluruhan.
Hal ini karena penyesuaian hanya berlaku terhadap komposisi dan perhitungan indeks, bukan terhadap status pencatatan saham maupun nilai kapitalisasi pasar emiten yang bersangkutan.
"Dengan keluarnya HSC dari IHSG tidak akan menurunkan market cap secara keseluruhan. Karena saham-saham HSC tersebut hanya dikeluarkan dari perhitungan IHSG," ujar Iding kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).
Dengan demikian, saham-saham yang masuk kategori HSC tetap tercatat di BEI dan kapitalisasi pasarnya masih diperhitungkan dalam total kapitalisasi pasar bursa.
Iding menegaskan bahwa perhitungan kapitalisasi pasar mencakup seluruh saham perusahaan yang tercatat, termasuk emiten yang tidak lagi menjadi bagian dari IHSG.
"Adapun market cap dihitung dari semua saham, termasuk saham HSC," katanya.
Baca Juga: Simulasi IHSG Tanpa Saham HSC Tembus 6.120, Bobot Bank Besar Makin Dominan
Baca Juga: BEI Rombak LQ45, IDX30, IDX80, Puluhan Saham HSC Keluar IHSG
Sebagai informasi, HSC merujuk pada kondisi konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi pada sejumlah pemegang saham tertentu. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penyusunan indeks karena dapat memengaruhi representasi saham terhadap aktivitas perdagangan di pasar.
Dengan penerapan kebijakan mulai 2 November 2026, sebanyak 81 saham HSC tidak lagi memberikan kontribusi langsung terhadap pergerakan IHSG.
Sementara itu, saham-saham lain yang tetap menjadi konstituen akan memperoleh penyesuaian bobot dalam perhitungan indeks.
Bagi investor, perubahan tersebut perlu diperhatikan terutama dalam mengevaluasi kinerja portofolio yang menggunakan IHSG sebagai tolok ukur atau benchmark.
Meski BEI memperkirakan tidak ada perubahan ekstrem akibat penyesuaian metodologi, pergerakan IHSG selanjutnya tetap dipengaruhi dinamika harga saham, kondisi pasar, serta sentimen investor.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan