Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai membidik perusahaan menengah yang berpotensi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari sekitar 15.300 perusahaan menengah yang tercatat dalam Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT), pemerintah telah melakukan pemetaan terhadap 1.600 perusahaan dan memilih 200 di antaranya untuk mengikuti pembinaan.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, mengatakan langkah tersebut bertujuan memperkenalkan pasar modal sebagai salah satu alternatif sumber pendanaan bagi perusahaan menengah yang ingin mengembangkan bisnisnya.
"Dari 1.600 yang kami profiling, dari 15.300 ada 200 yang kami undang, sudah kami seleksi untuk bisa nanti mereka memahami bahwa inilah cara bagaimana mendapatkan permodalan melalui bursa saham ini," ujar Bagus dalam peluncuran Go Public Academy for SME di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Menurut Bagus, perusahaan menengah di Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan skala bisnis. Salah satu tantangan yang perlu diperkuat adalah akses permodalan agar perusahaan mampu meningkatkan kapasitas usahanya dan memenuhi persyaratan menjadi perusahaan publik.
Melalui program Rise to IPO, Kementerian UMKM bersama BEI telah menggelar pembinaan dan seleksi perusahaan di sejumlah daerah. Di Jakarta, kegiatan tersebut melibatkan 46 perusahaan, sedangkan di Semarang diikuti 82 perusahaan.
Pada 2026, program ini diperluas ke tiga kota lainnya, yakni Surabaya dengan 50 perusahaan, Makassar sebanyak 45 perusahaan, dan Bandung sebanyak 58 perusahaan. Angka tersebut merupakan perkembangan pelaksanaan program di masing-masing kota, meskipun belum dirinci apakah seluruhnya berasal dari tahapan seleksi yang sama.
Dari rangkaian pembinaan tersebut, sebanyak 23 perusahaan kini mengikuti program Intensive Coaching Clinic bersama BEI. Program ini memberikan pendampingan lebih mendalam kepada perusahaan yang dinilai berpotensi memperoleh pendanaan melalui pasar modal.
Bagus menjelaskan, Go Public Academy for SME merupakan pengembangan dari program Rise to IPO yang telah berjalan sejak 2025.
Baca Juga: Investor Tembus 33,4 Juta, BEI Tak Mau Asal Tambah Emiten
Baca Juga: BEI Gandeng Surveyor Indonesia, Calon Emiten Bakal Diperkuat Sebelum IPO
Baca Juga: 42 Perusahaan Kecil dan Menengah Raup Rp2 Triliun dari BEI
Program ini terdiri atas tujuh tahapan pembinaan, mulai dari pengenalan berbagai alternatif pendanaan, penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan kesiapan keuangan, hingga persiapan menuju penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Untuk memperkuat pelaksanaannya, Kementerian UMKM juga melibatkan perguruan tinggi dalam proses identifikasi, riset, dan pendampingan perusahaan.
Bagus menegaskan, kolaborasi dengan berbagai pihak diperlukan agar perusahaan peserta tidak hanya memahami proses IPO, tetapi juga mampu memenuhi standar dan persyaratan sebagai perusahaan publik.
Meski demikian, keikutsertaan dalam program pembinaan tidak otomatis membuat perusahaan akan melaksanakan IPO. Keputusan untuk melantai di bursa tetap bergantung pada kesiapan, kebutuhan pendanaan, dan strategi bisnis masing-masing perusahaan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan