Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Pengamat komunikasi politik dan militer dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, menyoroti prinsip Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga hubungan politik.
Ginting berpandangan bahwa sikap Prabowo yang tidak ingin memiliki musuh politik merupakan hal yang naif. Oleh sebab itu, mantan Menteri Pertahanan tersebut dinilai masih menjaga hubungan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) demi stabilitas politik.
"Ya tentu saja untuk konsolidasi politik, untuk stabilitas politik dia tetap memerlukan Jokowi gitu ya. Karena kan Prabowo ini orang yang cenderung satu musuh itu terlalu banyak. 1000 kawan itu terlalu sedikit," ujarnya
"Saya kira ini naif juga sebenarnya kan enggak mungkinlah Bung. Kecuali misalnya dari 10 orang kawan kita ee dua tidak menyukai kita, delan menyukai kita, wajar. Tapi kalau delapan orang tidak menyukai kita, dua menyukai kita, ah itu tidak wajar," imbuhnya,
Ginting menilai Prabowo sudah saatnya mengakhiri hubungan politik yang selama ini terjalin dengan Jokowi pada 2026, terlebih setelah munculnya persoalan yang menjerat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
"Jadi kalau cuma Jokowi dan segala macam sudah saatnya menurut saya di 2026 ini sudah harus menyingkirkan itu. Era bulan madu dengan Jokowi ini sudah selesai. Apalagi dengan adanya kasus gibran," tandasnya.
Sebagai informasi, Gibran saat ini tengah didesak untuk mundur dari jabatan wapres buntut putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA) terkait persoalan ijazahnya.
Baca Juga: Nama Bobby Nasution Muncul sebagai Pengganti Gibran, Prabowo Bakal Pilih Menantu Jokowi?
Pada 6 Oktober 2026, dalam pertimbangan hukumnya, MK menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang setara dengan pendidikan sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat.
Sementara itu, pada 30 Oktober 2026, MA menyatakan Surat Keterangan (Suket) Penyetaraan Pendidikan SMA luar negeri milik Gibran tidak sah dan batal demi hukum.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: