Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Masih Dibayangi Tekanan Jual Investor Asing dan Pelemahan Rupiah

IHSG Masih Dibayangi Tekanan Jual Investor Asing dan Pelemahan Rupiah Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan jual di tengah derasnya arus dana asing yang keluar dari pasar saham domestik. Kondisi ini diperberat oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan IHSG memang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Namun, sejumlah indikator teknikal masih memberikan sinyal beragam sehingga investor perlu mewaspadai potensi tekanan lanjutan.

"Secara teknikal, IHSG berhasil mengalami rebound. Namun, penguatan tersebut masih dibayangi ketidakpastian karena sejumlah indikator menunjukkan sinyal yang beragam. Stochastics K-D masih bergerak negatif dan volume perdagangan mengalami penurunan, meskipun indikator RSI sudah menunjukkan sinyal positif," ujar Nafan dalam risetnya, Selasa (3/11/2026).

Tekanan terhadap pasar saham juga terlihat dari aktivitas investor asing. Secara harian, IHSG mencatatkan net foreign sell sebesar Rp375,54 miliar. Sementara itu, akumulasi jual bersih investor asing sepanjang tahun berjalan telah mencapai Rp126,37 triliun.

Sejalan dengan tekanan tersebut, kinerja IHSG secara year to date (ytd) tercatat mengalami penurunan sebesar 41,06%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar saham domestik masih menghadapi tantangan besar untuk memulihkan kepercayaan investor.

Nafan memperkirakan IHSG memiliki level support di 4.969 dan 4.907. Sementara itu, level resistance berada di 5.181 dan 5.246.

Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (US Midterm Elections) pada 3 November 2026. Peristiwa tersebut dinilai menjadi salah satu katalis yang dapat memicu volatilitas pasar keuangan dunia.

Hasil pemilu akan menentukan komposisi kekuatan politik di Kongres AS sekaligus memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Donald Trump. Sejumlah sektor yang berpotensi terdampak antara lain industri teknologi, pembangunan infrastruktur pusat data, kebijakan fiskal, pertahanan, dan kesehatan.

Apabila Partai Demokrat menguasai DPR maupun Senat, pengawasan terhadap perusahaan teknologi dan investasi pusat data berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat menimbulkan ketidakpastian bagi saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

Sebaliknya, jika Partai Republik mempertahankan kendali Kongres, kesinambungan kebijakan pemerintahan Trump relatif lebih terjaga. Meski demikian, arah pasar dalam jangka menengah dan panjang tetap akan sangat dipengaruhi oleh kondisi fundamental ekonomi serta kinerja perusahaan.

"Pelaku pasar perlu mencermati hasil US Midterm Elections karena dapat memengaruhi arah kebijakan ekonomi dan sektor-sektor strategis. Namun, dampaknya tetap perlu dilihat secara proporsional karena fundamental ekonomi dan kinerja korporasi masih menjadi faktor utama pergerakan pasar dalam jangka panjang," jelasnya.

Dari pasar komoditas, penurunan harga minyak mentah Brent yang sempat melemah sekitar 7,6% ke level USD104,81 per barel memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Penurunan harga energi tersebut berpotensi meredakan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi.

Pelemahan harga minyak dipicu oleh munculnya harapan penyelesaian diplomatik konflik AS-Israel dengan Iran yang berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global.

Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Ketegangan antara AS dan Iran masih perlu dicermati, terutama terkait ancaman militer, pengerahan armada tempur AS, serta potensi pengetatan kontrol di Selat Hormuz.

Jika konflik kembali memanas, harga energi berpotensi meningkat dan memicu tekanan baru terhadap inflasi global. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan internasional.

Baca Juga: Sempat Tertekan, IHSG Balik Menguat 0,79% ke Level 5.096,83

Baca Juga: Saham HSC Masih Muncul di IHSG, BEI Ungkap Penyebabnya

Sementara dari dalam negeri, investor masih dibayangi sejumlah persoalan, mulai dari perkembangan reformasi pasar modal, aksi jual investor asing, pelemahan rupiah, hingga penantian evaluasi MSCI berikutnya pada 11 November 2026.

Nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp18.156 per dolar AS turut menjadi tantangan bagi pasar domestik. Pelemahan mata uang dapat meningkatkan persepsi risiko investasi sekaligus menambah tekanan terhadap pergerakan IHSG.

Meski demikian, sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih memberikan sentimen positif. Inflasi Oktober 2026 tercatat melandai menjadi 3,23% secara tahunan. Neraca perdagangan September juga masih mencatatkan surplus sebesar USD3,36 miliar.

Selain itu, aktivitas industri manufaktur masih berada di zona ekspansi. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 meningkat menjadi 54,0 dari sebelumnya 52,4.

Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, Nafan mengingatkan investor agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan investasi. Selektivitas saham dan disiplin dalam mengelola risiko menjadi hal penting untuk menghadapi ketidakpastian pasar.

"Investor sebaiknya fokus pada saham-saham pilihan yang memiliki fundamental solid, terutama saham yang dinilai undervalued dan menunjukkan indikasi pembalikan arah atau reversal. Selain itu, penerapan manajemen risiko secara disiplin tetap harus menjadi prioritas," pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan