Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp18.145, Ditopang Surpur Neraca Perdagangan
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Pukul 09.03 WIB, rupiah di pasar spot ada di level Rp18.145 per dolar menguat 0,06% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 18.156 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan perdagangan rupiah hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.150 - Rp18.200. Sedangkan dalam perdagangan minggu ini bergerak pada rentang Rp18.000 - Rp18.320.
Pergerakan rupiah didorong sentimen dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 surplus sebesar US$3,36 miliar. Kondisi itu disebabkan nilai ekspor tercatat sebesar US$27,59 miliar, sedangkan impor membukukan US$24,23miliar.
"Hal tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak yang mengerek nilai impor Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor," ujar dia kepada wartawan.
Surplus perdagangan sebesar US$3,36 miliar menjadi sentimen positif bagi fundamental ekonomi Indonesia dan berpotensi mendukung rupiah. Namun, pasar tetap perlu mencermati kualitas pertumbuhan ekspor, perkembangan impor, serta arus modal asing.
Sebab, menurut Ibrahim, surplus perdagangan yang kuat belum tentu secara langsung membuat rupiah menguat apabila tekanan dari dolar AS dan faktor eksternal masih tinggi.
Secara bersamaan, inflasi indonesia sebesar 0,22% secara bulanan pada Oktober 2026 menunjukkan bahwa kenaikan harga barang dan jasa masih relatif terkendali. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,23%. Artinya, tekanan harga di dalam negeri mulai mereda, meskipun masyarakat masih menghadapi kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Gubernur BI Destry Damayanti Pilih Bungkam
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Harga Barang Berpotensi Makin Mahal
"Namun, pasar tetap akan mencermati perkembangan harga pangan, stabilitas rupiah, serta arah kebijakan suku bunga BI karena ketiganya berpengaruh terhadap obligasi, saham, dan pergerakan nilai tukar rupiah," katanya.
Selain itu, PMI Manufaktur S&P Global Indonesia naik menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September. Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur masih berada dalam zona ekspansi. Ini merupakan level tertinggi sejak Maret 2024. Bagi pasar, kondisi ini merupakan sentimen positif karena menunjukkan meningkatnya aktivitas dunia usaha dan potensi pertumbuhan ekonomi.
"Namun, keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada daya beli domestik, permintaan ekspor, stabilitas rupiah, dan kemampuan perusahaan mengendalikan biaya produksi," terang dia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: