Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kasak-Kusuk 'Rakyat Biasa' dari Solo Usai Putusan MA terkait Suket Anaknya

Kasak-Kusuk 'Rakyat Biasa' dari Solo Usai Putusan MA terkait Suket Anaknya Kredit Foto: ChatGPT/Belinda Safitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kedatangan ayah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Jokowi ke Jakarta setelah Mahkamah Agung (MA) membatalkan surat keterangan (suket) penyetaraan ijazah SMA Gibran menuai sorotan dari sejumlah pihak.

Juru Bicara PDI Perjuangan (PDIP) Guntur Romli dan Hanum Salsabiela Rais turut mempertanyakan sejumlah perkembangan yang terjadi setelah putusan tersebut.

Guntur Romli menyoroti keberangkatan Jokowi dari Solo ke Jakarta pada Minggu (1/11/2026). Menurutnya, Jokowi menyebut kedatangannya untuk menghadiri sidang Roy Suryo dan dokter Tifa sebagai saksi pelapor. Namun, sidang tersebut dijadwalkan berlangsung pada Kamis (5/11/2026).

Guntur mempertanyakan alasan Jokowi datang lebih awal, terlebih setelah MA mengeluarkan putusan terkait suket penyetaraan pendidikan Gibran.

“Pasca Putusan MA, Jokowi Buru-buru ke Jakarta, Mau Cawe-cawe Apa?” demikian pertanyaan yang disampaikan Guntur.

Ia mengaitkan kedatangan Jokowi dengan putusan kasasi MA nomor 742 K/TUN/2026 pada Jumat (30/10/2026). Dalam putusan tersebut, MA mengabulkan gugatan Subhan dan menyatakan surat keterangan penyetaraan pendidikan SMA milik Gibran tidak sah serta batal demi hukum.

Guntur juga menyoroti agenda konferensi pers MA yang disebut dijadwalkan pada Senin (2/11/2026), tetapi kemudian batal. Ia mempertanyakan apakah pembatalan tersebut memiliki keterkaitan dengan keberadaan Jokowi di Jakarta.

Dalam pernyataannya, Guntur mengingatkan sejumlah peristiwa sebelumnya, termasuk Putusan MK Nomor 90/2023 yang berkaitan dengan persyaratan usia calon wakil presiden, serta penerbitan surat keterangan penyetaraan pendidikan Gibran pada Agustus 2019.

Guntur menilai rangkaian peristiwa tersebut menimbulkan kecurigaan publik terhadap proses politik dan kelembagaan. Namun, dugaan adanya intervensi atau pengaturan di balik layar yang disampaikan Guntur belum disertai bukti yang dipaparkan dalam pernyataannya.

Hanum Rais Singgung Dugaan Tekanan terhadap MA

Sorotan terhadap perkembangan pascaputusan MA juga disampaikan Hanum Salsabiela Rais, putri politikus senior Amien Rais.

Hanum menyinggung dugaan tekanan terhadap lingkungan internal MA setelah Jokowi bertolak ke Jakarta. Ia juga mengaitkan dugaan tersebut dengan batalnya agenda konferensi pers MA.

“Tekanan mulai terjadi di lingkungan internal MA setelah Pak Mukidi terbang ke Jakarta. Konpers pun yang sedianya dilakukan, mulai masuk angin,” tulis Hanum melalui media sosial.

Hanum kemudian mengajak masyarakat memberikan dukungan kepada MA agar tetap berpegang pada putusan yang telah dikeluarkan. Menurutnya, dukungan publik diperlukan agar lembaga peradilan tidak gentar menghadapi tekanan.

“Tetap beri semangat ke MA yuk, mereka butuh suara dukungan kita semua bahwa yang mereka putuskan sudah benar dan sesuai rasa keadilan. Jangan takut dan jangan ciut, MA dan MK telah membuktikan suara mereka bersama rakyat!” lanjutnya.

Pernyataan Hanum tersebut merupakan tanggapan atas polemik putusan MA yang menyatakan suket penyetaraan pendidikan Gibran tidak sah dan batal demi hukum.

Diketahui, di akhir masa jabatannya, Jokowi mengaku akan kembali ke Solo dan menjadi rakyat biasa.

"Saya akan kembali ke kota saya, Solo, sebagai rakyat biasa," kata Jokowi dalam wawancara bersama The Economist

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat