Prabowo Ternyata Pernah Tolak Ajudan dari Listyo Sigit, Kini Semua jadi Tersangka Penyadapan
Kredit Foto: BPMI
Analis politik pertahanan dan keamanan Universitas Nasional, Dr. Selamat Ginting, menduga ada kaitan antara sikap Presiden Prabowo Subianto yang tidak memakai ajudan di awal pemerintahan dan kasus dugaan penyadapan yang kini ramai dibicarakan. Dugaan itu ia sampaikan dalam dialog dengan Indra J Piliang di kanal YouTube Forum Keadilan TV.
Ginting mengaitkan hal itu dengan Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution, salah satu perwira yang menurutnya ditangkap pertama dalam kasus ini. Menurut Ginting, Ahrie Sonta dahulu diajukan oleh Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menjadi ajudan Presiden.
“Ahrie Sonta itu dulu diajukan oleh Listyo Sigit Prabowo sebagai ajudan Presiden Prabowo Subianto di awal Prabowo menjadi presiden,” ujar Ginting.
Ia menyebut peristiwa penangkapan ini seolah menjawab pertanyaan yang lama ia simpan. “Tapi akhirnya terjawab, kenapa Presiden Prabowo tidak mau menggunakan ajudan? Salah satu kendalanya adalah di sini, Ahrie Sonta Nasution itu karena dia orang yang sangat dekat sekali dengan Listyo Sigit Prabowo,” katanya.
Dari situ Ginting menarik dugaan bahwa Presiden mencurigai orang-orang di sekitarnya. “Jadi menurut saya, kemungkinan Prabowo itu tidak mau menggunakan ini karena dimata-matai oleh Sigit Prabowo,” ujarnya.
Ginting juga menyebut peran Ahrie Sonta dalam kelompok yang ia sebut sebagai lingkaran Sigit. “Saya tentu saja melihat perannya antara lain yang mengendalikan IT dari kelompok Sigit ini,” katanya.
Ginting mengaku menyayangkan Sigit tidak langsung diganti sejak awal pemerintahan. “Saya menyayangkan waktu itu mengapa tidak langsung diganti Listyo Sigit Prabowo pada saat Prabowo dilantik menjadi presiden pada 20 Oktober 2024,” ujarnya.
Namun, menurut Ginting, Presiden tampaknya sengaja menunggu. “Rupanya dia betul-betul sedang menunggu momen,” kata Ginting. Indra J Piliang menimpali bahwa Presiden mungkin sedang mencari bukti, dan Ginting membenarkan bahwa pola yang sama terjadi pada pergantian Kapolri.
Ginting sebelumnya menilai Presiden sebenarnya sangat marah, tetapi menahan diri. Ia bahkan menyebut Presiden “terlalu lembut, terlalu lunak” terhadap Sigit, karena memberinya jabatan baru sebagai Kepala Staf Kepresidenan setelah tidak lagi menjadi Kapolri.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: