Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

El Nino Ancam Pasokan Cabai dan Bawang hingga 2027, Petani Diminta Siaga

El Nino Ancam Pasokan Cabai dan Bawang hingga 2027, Petani Diminta Siaga Kredit Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ancaman El Nino yang diproyeksikan berlangsung hingga April 2027 membayangi produksi hortikultura nasional. Cabai, bawang merah, dan sejumlah komoditas lain berisiko terdampak kekeringan berkepanjangan. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat mengganggu pasokan dan memicu gejolak harga pangan.

Untuk mencegah dampak tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Strateginya mencakup pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan distribusi antardaerah, bantuan pompa air, hingga penyediaan benih yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Ditjen Hortikultura Kementan, Freddy Lumban Gaol mengatakan pemerintah telah mencocokkan peta wilayah rawan kekeringan dengan lokasi sentra produksi hortikultura. Pemetaan ini menjadi dasar untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga.

Kementan juga memfasilitasi distribusi komoditas dari daerah yang mengalami surplus ke wilayah yang kekurangan pasokan. 

"Di sisi produksi, pemerintah memperkuat kawasan hortikultura, mendorong pemanfaatan pekarangan untuk pangan beragam dan bergizi, serta menyalurkan bantuan pompa air melalui koordinasi dengan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian," kata dia dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).

Upaya tersebut, bilang dia, turut melibatkan asosiasi petani cabai dan bawang merah, termasuk melalui sosialisasi asuransi pertanian. 

Freddy juga menilai kolaborasi dengan produsen benih, pupuk, pestisida, dan kalangan akademisi penting untuk menghasilkan solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof. Dedi Ruswandi mengingatkan El Nino berstatus sangat kuat per Oktober dan diperkirakan berlanjut hingga awal 2027. 

Dampaknya berpotensi memperpanjang kekeringan di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menggeser awal musim hujan.

Menurut Dedi, persoalan utama dalam menghadapi El Nino selama ini bukan hanya keterbatasan informasi iklim, melainkan lambatnya penerjemahan peringatan dini menjadi tindakan di tingkat petani. Informasi dari BMKG, misalnya, perlu segera diterapkan dalam keputusan teknis seperti penentuan waktu tanam dan pemilihan varietas.

Risiko terhadap hortikultura terbilang besar. Cabai, tomat, dan bawang merah memiliki akar relatif dangkal serta hasil panen yang tidak tahan disimpan lama. Suhu tinggi dapat menyebabkan bunga rontok dan menurunkan hasil panen. Sementara itu, kondisi kering berpotensi memicu peningkatan hama pengisap yang membawa virus kuning.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Dedi mendorong pengembangan varietas dengan ketahanan terhadap berbagai tekanan lingkungan, termasuk suhu tinggi, kekeringan, hama, dan penyakit. Ia juga merekomendasikan pemetaan wilayah rawan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) hingga tingkat kecamatan agar kalender tanam dapat disesuaikan dengan kondisi iklim setempat.

Petani juga didorong menerapkan pola tanam ganda, seperti tumpang sari cabai dan bawang merah, sebagai salah satu cara mengurangi risiko kegagalan panen. Menurut Dedi, mitigasi El Nino perlu menjadi bagian tetap dari perencanaan pangan nasional, bukan baru dilakukan ketika krisis terjadi.

Di sisi swasta, PT East West Seed Indonesia (EWINDO) turut menyiapkan benih yang dikembangkan agar lebih adaptif terhadap cekaman suhu tinggi, kekeringan, serta serangan hama dan penyakit.

Managing Director EWINDO Isak Heryawan mengatakan perusahaan melakukan pemuliaan tanaman dan pengujian untuk menyeleksi varietas yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Salah satu fokusnya adalah menghasilkan tanaman yang tetap produktif pada suhu tinggi.

Baca Juga: Dibayangi El Nino, BPS Prediksi Luas Panen Padi Akhir 2026 Turun 17,75%

Baca Juga: Dihantam El Nino, Sawah DEB Uma Palak Tetap Hijau Royo-royo

Untuk komoditas tomat, EWINDO mengembangkan SERVO F1 dan TYSON F1 yang ditujukan untuk menghadapi suhu tinggi dan mengurangi risiko keguguran bunga. Sementara untuk cabai, tersedia TANGGUH F1, TANGGUH 77 F1, dan JUWITA 25 F1.

Perusahaan juga menyediakan benih sejumlah komoditas lain, antara lain terong M 72 F1, jagung manis BONANZA MB F1 dan NB SUPER F1, pakcoy NAURA F1, caisim SHINTA dan TOSAKAN, serta bunga kol PM 3000 F1. Pilihan lainnya mencakup paria, labu parang, dan kacang panjang New Kanton Tavi.

Selain menyediakan benih, EWINDO menggelar pendampingan petani melalui edukasi praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP), penerapan tumpang sari, penggunaan para-para, pembuatan demplot, dan penyuluhan. Perusahaan juga menyatakan menjaga keterjangkauan serta konsistensi mutu benih di jaringan distribusinya agar petani tetap memiliki akses terhadap benih berkualitas di tengah cuaca ekstrem.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan