Elon Musk Rugi Rp 9 Triliun! All In Dukung Republik tapi Justru Keok di Pemilu AS
Kredit Foto: Instagram/Elon Musk
Miliarder teknologi Elon Musk melontarkan sindiran bernada humor setelah Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS).
Padahal, Musk telah menggelontorkan hampir 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 9 triliun untuk mendukung kepentingan politik partai tersebut.
Melalui akun media sosial X pada Rabu (4/11/2026), pemilik Tesla dan SpaceX itu menyindir kegagalannya memengaruhi hasil pemilu dengan candaan mengenai teknologi luar angkasa.
"Sepertinya laser luar angkasa yang mengganggu pemilu saya tidak berfungsi kali ini," tulis Musk, disertai emoji mengangkat bahu.
Pernyataan tersebut muncul setelah Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas kursi di Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam pemilu yang berlangsung Selasa (3/11/2026).
Hasil tersebut menjadi pukulan bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik yang sebelumnya mendapat dukungan besar dari Musk.
Berdasarkan data pelacak pendanaan kampanye OpenSecrets, Musk menyumbangkan hampir 500 juta dollar AS untuk berbagai kepentingan politik Partai Republik.
Angka tersebut menjadikannya penyumbang individu terbesar dalam satu siklus pemilu federal sejak pembatasan belanja politik dilonggarkan pada 2010.
Sebagian besar dana disalurkan melalui America PAC, komite aksi politik yang cenderung mendukung Partai Republik, serta super PAC Republican Senate Leadership Fund (SLF).
Salah satu penerima dukungan terbesar Musk adalah Ken Paxton, kandidat Partai Republik dalam pemilihan Senat di Texas.
Baca Juga: Pemilu Sela AS: Demokrat Sapu Bersih Kemenangan Atas Trump dan Partai Republik
Pada September 2026, Republican Senate Leadership Fund menggelontorkan dana sebesar 158 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,8 triliun dari sumbangan Musk untuk mendukung kampanye Paxton.
Namun, besarnya sokongan finansial tersebut tidak mampu mengantarkan Paxton menuju kemenangan. Dia justru dikalahkan kandidat Demokrat, James Talarico.
Kemenangan Talarico menjadi catatan sejarah tersendiri. Dia merupakan kandidat Partai Demokrat pertama yang berhasil memenangkan jabatan tingkat negara bagian di Texas sejak 1994.
Persaingan di Texas juga tercatat sebagai salah satu kontestasi dengan pengeluaran politik terbesar.
Talarico harus menghadapi belanja kampanye lebih dari 200 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,6 triliun dari kelompok-kelompok eksternal yang menentangnya.
Dalam pidato kemenangannya di Austin, Talarico secara terbuka menyinggung kekuatan finansial dan politik yang harus dihadapinya selama kampanye, termasuk Elon Musk.
"Dalam pemilihan ini, kami menghadapi para Goliath. Orang terkaya di dunia, orang paling berkuasa di dunia, dan seluruh kelompok elite di Washington DC," ujar Talarico.
Dia juga mengkritik pengaruh para miliarder terhadap kehidupan politik Amerika. Menurutnya, kelompok orang kaya memiliki kendali besar atas algoritma media sosial, jaringan berita kabel, hingga politisi yang tampil di layar televisi.
Talarico menilai kekuatan tersebut digunakan untuk menciptakan perpecahan dan membuat masyarakat Amerika saling bermusuhan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Taufan Bara Mukti
Editor: Taufan Bara Mukti
Tag Terkait: