Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Rupiah dibuka Rp18.070 atau menguat 98 poin atau 0,54 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.168 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang Garuda pada hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp18.160 - Rp18.210. Sedangkan dalam perdagangan minggu ini di rentang Rp18.000 - Rp18.320.
Dia menyampaikan pelaku pasar saat ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali melambat dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya suku bunga yang masih membebani biaya pinjaman, sementara tekanan harga kebutuhan pokok mengurangi daya beli masyarakat. Akibatnya, konsumsi rumah tangga dan aktivitas dunia usaha berpotensi mengalami perlambatan.
Di sisi lain, proyeksi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 hanya berada di kisaran 5,4%–5,5%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,6%–6%, menjadi perhatian pelaku pasar.
"Penurunan proyeksi ini mencerminkan adanya tantangan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," kata dia kepada wartawan.
Kondisi tersebut, lanjut Ibrahim, berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham dan rupiah. Pasar akan mencermati apakah perlambatan ekonomi hanya bersifat sementara atau mulai menunjukkan pelemahan daya beli, konsumsi masyarakat, dan investasi.
"Jika pertumbuhan terus melambat, tekanan terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor dapat meningkat," terang dia.
Baca Juga: Pemerintah Cari Sumber Devisa Baru untuk Perkuat Ketahanan Rupiah
Baca Juga: Rupiah Loyo ke Rp18.168, Pasar Cermati Penurunan Proyeksi Ekonomi
Secara bersamaan, ketegangan politik meningkat setelah tiga perwira tinggi Polri ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat negara, tokoh politik, jurnalis, dan pengusaha. Salah satu yang terseret adalah mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
"Kasus ini masih dalam proses penyidikan sehingga dugaan keterlibatan para tersangka perlu dibuktikan melalui proses hukum," katanya.
Perkembangan kasus ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian politik dan membuat investor lebih berhati-hati. Pasar akan mencermati stabilitas pemerintahan, soliditas institusi keamanan, serta kepastian penegakan hukum. Jika persoalan ini berkembang dan mengganggu kepercayaan terhadap pemerintahan, risiko keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia dapat meningkat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: