Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri sagu, mulai dari bahan pangan hingga produk turunan nonpangan. Namun, besarnya sumber daya tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam penguasaan pasar ekspor, termasuk di Jepang yang menjadi salah satu tujuan pati sagu Indonesia.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengungkapkan, pangsa pati sagu Indonesia di pasar Jepang menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, kontribusi Indonesia masih menyisakan ruang besar untuk diperluas.
Berdasarkan data yang dipaparkan Sarmuji, pangsa Indonesia dalam impor pati sagu Jepang baru mencapai 2% pada 2021. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 7% pada 2022, 8% pada 2023, 9% pada 2024, hingga mencapai 14% pada 2025.
Di sisi lain, nilai impor pati sagu Jepang pada 2025 tercatat mencapai 10,5 juta, meningkat 35% dibandingkan 2021.
"Pada tahun 2025 nilai impor pati sagu Jepang mencapai 10,5 juta, meningkat 35% dibandingkan tahun 2021," kata Sarmuji dalam sambutannya di Sagu Business Forum.
Menurut dia, peningkatan pangsa pasar tersebut menunjukkan adanya peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pemasok pati sagu di pasar internasional. Upaya itu perlu didukung pengembangan industri pengolahan, investasi, serta perluasan akses pasar ekspor.
Sarmuji menilai Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku. Lahan sagu tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Maluku, Kepulauan Meranti, Nias, dan Mentawai.
Potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan produk bernilai tambah. Padahal, sagu tidak hanya dapat diolah menjadi tepung atau pati, tetapi juga memiliki beragam kemungkinan pengembangan produk.
Dalam industri pangan, pati sagu dapat digunakan sebagai bahan baku mi, beras analog, pasta, biskuit, hingga campuran produk olahan daging. Sementara di luar sektor pangan, sagu berpotensi dikembangkan menjadi bahan bio-packaging dan bioetanol.
Bahkan, bagian yang selama ini dianggap sebagai limbah juga dapat dimanfaatkan. Limbah padat dan cair pengolahan sagu berpeluang diolah menjadi pakan ternak maupun sumber energi seperti biogas.
"Dengan demikian pengembangan industri sagu kita memiliki peluang untuk menerapkan prinsip ekonomi sirkular, di mana satu sumber daya bisa dimanfaatkan dengan banyak tahap bahkan bisa zero waste atau tidak ada sampah sama sekali," ujar Sarmuji.
Baca Juga: Menperin Buka Suara soal Listyo Sigit Cs Jadi Tersangka Penyadapan Presiden
Baca Juga: Tak Cuma Nikel, Menperin Bidik Hilirisasi Sawit, Kelapa hingga Rumput Laut
Pemerintah, lanjut dia, ingin mendorong pengembangan komoditas yang memiliki keunggulan khas Indonesia agar tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Penguatan riset dan kerja sama lintas kementerian juga diperlukan agar potensi sumber daya tersebut dapat berkembang menjadi produk industri yang memiliki daya saing.
Sarmuji menyebut Kementerian Perindustrian berencana memperkuat kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendukung pengembangan berbagai komoditas unggulan, termasuk sagu.
Dia juga mengharapkan forum bisnis sagu dapat membuka kerja sama antara pelaku industri Indonesia dan Jepang, baik dalam pengembangan teknologi, investasi, maupun perluasan pasar.
Melalui forum tersebut, pemerintah turut mempertemukan investor dengan daerah penghasil sagu untuk menjajaki kerja sama penyediaan bahan baku dan pengembangan industri pengolahan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan