Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Neraca Perdagangan Jabar Surplus USD 22,09 Miliar, Ekspor Tembus USD 31,22 Miliar

Neraca Perdagangan Jabar Surplus USD 22,09 Miliar, Ekspor Tembus USD 31,22 Miliar Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Bandung -

Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Barat menunjukkan tren positif sepanjang Januari–September 2026. Provinsi ini membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD 22,09 miliar, ditopang nilai ekspor yang mencapai USD 31,22 miliar atau jauh melampaui nilai impor sebesar USD 9,13 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat, aktivitas ekspor daerah masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 98,58 persen dari total ekspor. Capaian tersebut memperlihatkan besarnya peran industri manufaktur dalam menopang perdagangan luar negeri Jawa Barat.

Sementara itu, impor Jawa Barat didominasi kelompok bahan baku dan bahan penolong dengan kontribusi sebesar 80,39 persen. Komposisi ini menunjukkan bahwa aktivitas impor masih banyak berkaitan dengan kebutuhan produksi industri.

Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, surplus perdagangan tersebut menjadi salah satu indikator kinerja perdagangan luar negeri Jawa Barat sepanjang tiga kuartal pertama 2026.

"Dengan demikian neraca perdagangan Jawa Barat secara kumulatif membukukan surplus sebesar USD 22,09 miliar. Kita surplus terbesar dengan negara seperti Amerika Serikat, Vietnam, dan Filipina," kata Ari dalam penyampaian Berita Resmi Statistik (BRS) secara daring, Senin (2/11/2026).

Capaian surplus tersebut memperlihatkan posisi ekspor Jawa Barat yang masih kuat di tengah kebutuhan impor untuk mendukung kegiatan industri dan produksi.

Selain perdagangan luar negeri, BPS Jawa Barat juga melaporkan perkembangan inflasi Oktober 2026. Secara bulanan, inflasi Jawa Barat tercatat sebesar 0,20 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 2,31 persen dan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,90 persen.

Ari menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Oktober 2026. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 0,41 persen dengan andil terhadap inflasi umum mencapai 0,12 persen.

Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan akibat musim kemarau panjang serta serangan hama patek pada tanaman hortikultura.

Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi. Komoditas tersebut antara lain daging ayam ras dan telur ayam ras seiring melimpahnya pasokan, serta emas perhiasan yang mengikuti tren penurunan harga emas global.

Baca Juga: Rencana Pinjaman Rp3,4 Triliun Tak Terealisasi, Pemprov Jabar Punya Ruang Fiskal Rp1 Triliun pada 2027

Harga beras juga mulai menunjukkan tren penurunan pada Oktober 2026 setelah sebelumnya menjadi salah satu komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi.

Secara spasial, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kota Bogor sebesar 0,35 persen. Adapun Kota Bandung mencatatkan inflasi terendah, yakni 0,08 persen.

Rangkaian indikator tersebut menjadi gambaran perkembangan ekonomi Jawa Barat, mulai dari aktivitas perdagangan internasional hingga stabilitas harga kebutuhan masyarakat. Surplus perdagangan sebesar USD 22,09 miliar sekaligus memperlihatkan besarnya kontribusi sektor industri pengolahan terhadap kinerja ekonomi daerah.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman