Kredit Foto: Istimewa
Pertumbuhan industri pengolahan nasional mencapai 5,87% pada kuartal III 2026. Namun, pertumbuhan tersebut belum dinikmati secara merata oleh seluruh subsektor manufaktur. Di tengah mayoritas industri yang masih tumbuh positif, industri karet, barang dari karet, dan plastik justru mengalami kontraksi paling dalam.
Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mengacu pada Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, industri karet, barang dari karet, dan plastik tumbuh negatif 7,96% pada kuartal III 2026.
Tekanan tersebut juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha. Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) menyebut produsen petrokimia dan plastik dalam negeri belum bisa menikmati penguatan ekonomi nasional.
Ketua Umum INAPLAS, Suhat Miyarso mengatakan, industri petrokimia dan plastik masih berada dalam kondisi tertekan meskipun ekonomi Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif.
"Intinya bahwa memang sekarang ini industri petrokimia dan plastik sedang posisi tertekan. Dan tadi pertumbuhan ekonomi yang bagus, tidak bisa dinikmati oleh produsen dalam negeri," ungkap Suhat saat ditemui di Gedung Kemenperin, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Suhat mengatakan, kondisi tersebut telah disampaikan kepada Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji. INAPLAS meminta pemerintah mencari solusi untuk membantu industri dalam negeri, salah satunya melalui penerapan instrumen perlindungan perdagangan atau trade remedies.
Instrumen yang diusulkan antara lain safeguard dan bea masuk antidumping untuk melindungi produsen domestik dari tekanan persaingan perdagangan.
"Tadi kami sampaikan kepada Pak Menteri (Muhammad Sarmuji) untuk dicarikan jalan. Di antaranya dengan memberlakukan trade remedies, baik itu berupa safeguard, anti-dumping, dan lain-lain," sambung Suhat.
Furnitur hingga Logam Dasar Tumbuh Kencang
Berbeda dengan industri karet dan plastik, sebagian besar subsektor manufaktur masih mencatatkan pertumbuhan positif. Dari total 15 subsektor industri pengolahan, sebanyak 14 subsektor tumbuh positif pada kuartal III 2026.
Industri furnitur menjadi subsektor dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 12,68%. Berikutnya, industri logam dasar tumbuh 9,94%, disusul industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sebesar 9,75%.
Sejumlah subsektor lain juga mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata industri pengolahan nasional sebesar 5,87%. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,10%, sedangkan industri makanan dan minuman (mamin) meningkat 7,09%.
Adapun industri pengolahan lainnya serta jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan tumbuh 7,01%. Industri tekstil dan pakaian jadi mencatatkan pertumbuhan 6,22%, sementara industri alat angkutan tumbuh 6,14%.
Baca Juga: Menperin Pamer Kinerja Manufaktur: PMI Tembus 54, Tertinggi Sejak Maret 2024
Baca Juga: Pertamina Serap 9.000 Ton Sagu untuk Pengeboran Migas, Kemenperin Siapkan Aturan Wajib
Sejumlah Subsektor Masih Tumbuh di Bawah Rata-Rata
Meski mayoritas subsektor tumbuh positif, beberapa industri masih mencatatkan pertumbuhan di bawah rata-rata nasional.
Industri mesin dan perlengkapan hanya tumbuh 4,33%. Sementara itu, industri kayu, barang dari kayu dan gabus, serta barang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya meningkat 3,12%.
Industri kertas dan barang dari kertas, percetakan, serta reproduksi media rekaman tumbuh 3,08%. Industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatatkan pertumbuhan 2,33%.
Pertumbuhan yang lebih rendah juga terjadi pada industri barang galian bukan logam sebesar 2,16% dan industri pengolahan tembakau yang hanya tumbuh 0,67%.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: