Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wall Street hingga Asia Berguguran, Saham Teknologi Tertekan Sentimen Anti-AI

Wall Street hingga Asia Berguguran, Saham Teknologi Tertekan Sentimen Anti-AI Kredit Foto: Trend Micro
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar saham teknologi global mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Gelombang aksi jual meluas dari Amerika Serikat (AS) ke sejumlah bursa Asia dan Eropa seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI).

Sentimen negatif tersebut muncul setelah kemenangan kandidat Partai Demokrat yang menentang pengembangan AI dalam pemilu sela AS. Hasil politik tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pemerintahan dan Kongres AS berpotensi memperketat pengawasan terhadap industri AI, termasuk pembangunan infrastruktur pusat data.

Mengutip NBC News, Jumat (6/11/2026), indeks Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi anjlok 6,3% pada perdagangan Jumat. Penurunan tersebut menghapus sekitar US$2,3 triliun kapitalisasi pasar indeks tersebut.

Tekanan juga menghantam indeks S&P 500 yang kehilangan sekitar US$2,8 triliun kapitalisasi pasar setelah terkoreksi 4,4%. Pelemahan tersebut menjadi penurunan harian terburuk kedua indeks dalam 18 bulan terakhir.

Gelombang aksi jual kemudian menjalar ke pasar Asia. Indeks Kospi Korea Selatan merosot lebih dari 8% hingga memicu penghentian sementara perdagangan di seluruh pasar. Saham perusahaan pemasok memori untuk pusat data AI, Samsung dan SK Hynix, juga sempat anjlok lebih dari 10% sebelum memangkas sebagian kerugiannya.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 sempat melemah hingga 6% dan memasuki wilayah bear market. Bahkan, indeks tersebut mencatatkan kinerja mingguan terburuk sejak 2020.

Tekanan lebih dalam terjadi di Taiwan. Indeks acuan TAIEX terkoreksi 9%, seiring posisi negara tersebut sebagai salah satu pusat penting rantai pasok industri AI global, termasuk melalui perusahaan produsen chip TSMC.

Pelemahan juga merambah Eropa. Indeks FTSE 100 Inggris turun hampir 2%, sementara indeks CAC 40 Prancis dan DAX Jerman mengalami tekanan serupa.

Kepala Strategi Investasi SAXO Markets, Charu Chanana, menilai koreksi pasar tersebut mencerminkan tingkat ketergantungan masing-masing negara terhadap siklus investasi infrastruktur AI Amerika Serikat.

“Pasar sedang memberikan hukuman berdasarkan tingkat ketergantungan mereka terhadap siklus infrastruktur AI AS,” kata Chanana kepada NBC News.

Baca Juga: Inalum Perkuat Efisiensi Produksi Lewat Inovasi Teknologi

Sementara itu, Kepala Strategi Pasar Asia Pasifik J.P. Morgan, Tai Hui, menilai perusahaan-perusahaan di Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang memiliki keterkaitan erat dengan belanja modal atau capital expenditure (capex) industri AI global.

Menurutnya, besarnya koreksi saham di kawasan tersebut tidak terlepas dari penurunan tajam yang sebelumnya terjadi di pasar saham AS.

Selain persoalan valuasi saham teknologi yang dinilai terlalu tinggi, hasil pemilu sela AS turut menambah ketidakpastian terhadap prospek industri AI.

Kemenangan kandidat yang menentang pengembangan AI dan pembangunan pusat data diperkirakan dapat meningkatkan pengawasan terhadap proyek-proyek infrastruktur teknologi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Texas, yang merupakan pasar pusat data terbesar di AS.

Kemenangan Gina Hinojosa sebagai gubernur terpilih Texas menjadi salah satu perhatian investor. Sikap politik yang lebih kritis terhadap pembangunan infrastruktur AI dikhawatirkan dapat memicu penundaan proyek dan peningkatan biaya investasi.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi proyeksi profitabilitas perusahaan yang selama ini menggelontorkan belanja modal besar untuk membangun infrastruktur pendukung AI.

Bagi pasar Asia, perkembangan kebijakan di AS memiliki dampak signifikan karena sejumlah perusahaan di kawasan tersebut menjadi pemasok utama perangkat keras untuk mendukung ambisi AI Negeri Paman Sam.

Chanana menilai situasi ini menjadi perhatian besar bagi Asia mengingat sebagian besar perangkat keras yang menopang pengembangan AI Amerika Serikat diproduksi di kawasan tersebut.

Tekanan pasar juga menjalar ke China. Sejumlah perusahaan teknologi AI yang sebelumnya mencatatkan lonjakan valuasi kini menghadapi koreksi tajam.

Salah satunya adalah Z.ai, perusahaan pengembang model AI asal China yang sahamnya sempat melonjak hingga 2.000% pada Juni setelah melantai di bursa pada Januari. Namun, saham perusahaan tersebut kini telah terkoreksi lebih dari 80% dari level puncaknya dan kembali turun 10% pada perdagangan Jumat.

Indeks Star 50 yang berisi perusahaan semikonduktor dan AI unggulan China juga telah kehilangan sekitar separuh nilainya dibandingkan puncak pada Juni. Kondisi tersebut menghapus sekitar US$500 miliar kapitalisasi pasar.

Chanana menilai sebagian gelembung valuasi saham AI China memang telah mengalami koreksi.

Meski demikian, ia melihat terdapat perbedaan mendasar antara investasi AI di China dan Amerika Serikat. Jika investasi di AS lebih banyak didorong pertimbangan komersial, China menempatkan pengembangan AI dan kemandirian industri semikonduktor sebagai prioritas strategis nasional.

Dengan demikian, investasi teknologi di China masih berpotensi berlanjut meskipun profitabilitas jangka pendek belum menjadi pertimbangan utama. Pengembangan tersebut juga berkaitan dengan kemandirian teknologi, daya saing industri, dan keamanan nasional.

Di sisi lain, prospek industri semikonduktor Asia Pasifik dalam jangka menengah dinilai masih memiliki peluang seiring kebutuhan komputasi global yang terus meningkat.

Tai Hui dari J.P. Morgan menilai selama permintaan terhadap daya komputasi terus bertumbuh, kebutuhan terhadap perangkat keras pendukung seperti chip dan memori semikonduktor masih akan terjaga.

Ia mengibaratkan produsen semikonduktor dan memori sebagai penyedia peralatan yang tetap dibutuhkan selama permintaan terhadap komoditas utamanya masih tersedia.

Meski mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah indeks saham Asia masih mencatatkan kinerja positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Indeks Kospi Korea Selatan tercatat naik 25%, Nikkei 225 Jepang menguat 13%, sedangkan indeks TSEC Taiwan Technology meningkat 47%.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Istihanah