Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

DS: Jokowi Kelimpungan, Benteng Pertahanannya Runtuh Total, Sekarang Tanpa Perlindungan

DS: Jokowi Kelimpungan, Benteng Pertahanannya Runtuh Total, Sekarang Tanpa Perlindungan Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pegiat media sosial Denny Siregar (DS) turut mengomentari dinamika politik setelah mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP) ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Denny juga menyoroti hubungan politik antara Prabowo dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia mengajak publik mencermati perkembangan situasi tersebut dengan tenang dan menggunakan sudut pandang yang lebih luas.

Menurut Denny, Prabowo telah menjalankan strategi politik untuk mengambil kendali kekuasaan secara bertahap.

Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai upaya mendekati pihak yang dianggap sebagai lawan, sembari melemahkan pengaruh mereka satu per satu.

"Prabowo membangun kepercayaan ke Jokowi bahwa dia bukan lawan, tetapi teman. Disaat yg sama, Prabowo mulai memotong satu persatu pertahanan lawan. Dan benteng terkuat lawan saat itu ada di LSP. LSP pegang pasukan yang bisa digunakan untuk keuntungan Jokowi. Salah satunya dengan penyadapan untuk menyandera kebijakan politik Prabowo. Prabowo tahu ini, karena itu dia mencari waktu yang tepat untuk menyerang," dalam analisa Denny.

Denny menilai Listyo Sigit merupakan salah satu figur penting dalam lingkar kekuatan politik Jokowi karena memiliki kendali atas jajaran kepolisian. Ia menduga posisi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan politik, termasuk melalui dugaan penyadapan terhadap Prabowo.

Dalam analisisnya, Denny menyebut penindakan terhadap Listyo Sigit dan sejumlah pihak yang disebutnya sebagai bagian dari kelompok tersebut sebagai pukulan terhadap kekuatan politik Jokowi.

"Jokowi kelimpungan. Serangan ini tidak dia antisipasi. Benteng pertahannnya runtuh total. Dia sendiri sekarang tanpa perlindungan," katanya.

Ia juga mengaitkan perkembangan itu dengan wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Denny menilai kedua hal tersebut menjadi tekanan politik yang muncul dalam waktu berdekatan bagi kubu Jokowi.

Denny kemudian berpendapat bahwa Jokowi berupaya membangun kekuatan baru melalui dukungan para simpatisan. Ia menyoroti kehadiran Jokowi dalam persidangan sebagai momen yang dinilainya dapat dimanfaatkan untuk membangun simpati publik.

Menurut Denny, dukungan simpatisan itu berpotensi menjadi semacam benteng politik apabila Jokowi menghadapi persoalan di kemudian hari. Ia juga menilai Jokowi memiliki pendekatan politik yang berbeda dari Prabowo, yang menurutnya cenderung lebih frontal.

"Jokowi pintar memanipulasi keadaan. Inilah yang tidak dipunyai Prabowo yang cenderung lebih frontal, dan tidak punya karakter memohon belas kasihan," tulis Denny.

Denny menutup analisisnya dengan menyebut Prabowo perlu kembali mencari strategi lain untuk menghadapi dinamika politik tersebut. Menurut dia, pendekatan konfrontatif justru dapat merugikan Prabowo.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat