Anies vs Bahlil di Bursa Wapres: Pakar Ungkap Siapa yang Hanya Kuat karena Embel-embel Partai
Kredit Foto: Istimewa
Pakar hukum tata negara Refly Harun membandingkan Anies Baswedan dan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai kandidat wakil presiden pengganti Gibran Rakabuming Raka.
Refly menilai Anies memenuhi seluruh persyaratan untuk mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam memimpin pemerintahan. Selain memiliki pengalaman di bidang birokrasi sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta dan mantan Menteri Pendidikan, Anies juga dinilai mampu bekerja serta memiliki semangat pembaruan.
Namun, menurut Refly, persoalan utamanya terletak pada apakah Anies akan diterima oleh Prabowo maupun partai-partai pendukung pemerintah.
"Tapi masalahnya sederhana apakah dia akan diterima oleh partai-partai pendukung Prabowo dan Prabowo sendiri. Kenapa? Kenapa Anies banyak ditolak? Karena barang bagus," ujarnya dalam kanal YouTube Refly Harun, dikutip Sabtu (7/11).
Baca Juga: Anggota DPR Desak Gibran Mundur: Dinilai Tak Punya Legitimasi Moral Lagi
Sementara itu, Refly menilai Bahlil bukan merupakan sosok 'barang bagus' seperti Anies. Menurutnya, keunggulan Bahlil lebih terletak pada posisinya sebagai pemimpin partai besar sekaligus menteri di Kabinet Merah Putih.
"Bahlil bukan barang bagus, Bahlil itu hebat karena ketua umum partai politik saja. Kalau dia tidak menjadi ketua umum partai politik tidak lagi jadi menteri selesai sudah. Semuanya menjadi hebat karena dia nyantol di partai politik, nyantol di kekuasaan," ujar Refly.
Refly kemudian membandingkan sosok yang dianggap hebat karena memiliki kekuasaan dengan sosok yang tetap diperhitungkan meski tidak sedang memegang jabatan.
"Tapi begitu orang hebat itu adalah orang yang tidak berkuasa tapi masih menjadi rujukan, masih dianggap berbahaya, masih dianggap unggul dan lain sebagainya," lanjutnya.
Menurut Refly, Anies termasuk sosok yang memiliki pengaruh meski tidak didukung kekuatan finansial yang besar. Ia bahkan menilai Prabowo lebih mewaspadai Anies dibandingkan para ketua umum partai politik karena mantan Gubernur DKI Jakarta itu memiliki basis pendukung ideologis yang nyata.
"Anies tidak ada kekuatan yang kuat dalam hal finansial, tapi kemudian Prabowo justru lebih mewaspadai Anies ketimbang ketua-ketua umum partai politik, Karena dia sesungguhnya mempunyai punya massa ideologis yang riil," tandasnya.
Sebagai informasi, Gibran saat ini tengah didesak untuk mundur dari jabatan wapres buntut putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA) terkait persoalan ijazahnya.
Baca Juga: Gatot Nurmantyo dan Puan Maharani Mencuat Jadi Pilihan Prabowo Jika Kursi Gibran Kosong
Pada 6 Oktober 2026, dalam pertimbangan hukumnya, MK menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang setara dengan pendidikan sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat.
Sementara itu, pada 30 Oktober 2026, MA menyatakan Surat Keterangan (Suket) Penyetaraan Pendidikan SMA luar negeri milik Gibran tidak sah dan batal demi hukum.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: