- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Penjualan Semen Meningkat, Laba Indocement Naik 22,5% Jadi Rp1,3 Triliun
Kredit Foto: Istimewa
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) membukukan kinerja positif hingga kuartal III-2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp1,30 triliun per 30 September 2026, meningkat 22,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan neto sebesar 8,9% secara tahunan (year-on-year/YoY), dari Rp12,91 triliun menjadi Rp14,07 triliun.
Peningkatan pendapatan sejalan dengan pertumbuhan total volume penjualan semen dan klinker yang mencapai 15,75 juta ton, atau naik sekitar 9% YoY. Penjualan di pasar domestik meningkat 7,6% menjadi 15,08 juta ton. Sementara itu, volume ekspor mencatatkan lonjakan lebih tinggi, yakni 55,9% menjadi 660.000 ton.
Kinerja penjualan yang positif juga terlihat di seluruh segmen produk. Penjualan semen curah tumbuh 12,6%, sedangkan semen kantong meningkat 5,9%. Capaian tersebut turut mengantarkan Indocement mempertahankan pangsa pasar domestik di level 29,3%.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor perseroan tumbuh 11,4% YoY menjadi Rp4,50 triliun, dengan margin laba bruto sebesar 32%.
Namun, peningkatan aktivitas usaha juga diikuti kenaikan beban. Beban usaha Indocement naik 11,5% menjadi Rp3 triliun, sedangkan beban operasi lain neto meningkat 284,2% menjadi Rp59,6 miliar.
Meski menghadapi kenaikan beban, perseroan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan laba usaha sebesar 18,5% YoY menjadi Rp1,55 triliun. Margin laba usaha tercatat 11,1%, sementara EBITDA mencapai Rp2,82 triliun dengan margin sebesar 20,1%.
Kontribusi positif juga datang dari pendapatan keuangan neto yang melonjak 797% menjadi Rp20,4 miliar. Kenaikan ini dipengaruhi oleh penurunan tingkat bunga atas utang PT Semen Grobogan. Selain itu, bagian laba neto dari entitas asosiasi meningkat 109,6% menjadi Rp49,8 miliar.
Waspadai Tekanan Biaya Energi dan Nilai Tukar
Di tengah pertumbuhan kinerja tersebut, Indocement tetap mencermati sejumlah risiko yang dapat menekan profitabilitas. Dua tantangan utama yang dihadapi perseroan adalah tingginya biaya energi dan fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Corporate Secretary Indocement, Dani Handajani, menyampaikan bahwa volatilitas energi global serta belum pastinya pemulihan biaya masih menjadi tantangan bagi industri semen.
Untuk mengantisipasinya, peningkatan efisiensi operasional dan pemanfaatan bahan bakar alternatif menjadi langkah penting. Perseroan juga melihat perlunya penyesuaian harga jual untuk merespons perkembangan biaya.
Baca Juga: Ingin Waralaba Lokal Mendunia, Kementerian UMKM Dorong Akses Modal hingga IPO
Baca Juga: Laba Bank Mandiri Tumbuh 19,6% Jadi Rp46,5 Triliun
"Selain itu, musim hujan yang akan datang berpotensi memperlambat laju kegiatan konstruksi dan menekan permintaan," ujar Dani dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Minggu (8/11/2026).
Di tengah tantangan operasional, kondisi keuangan Indocement masih terjaga. Per 30 September 2026, perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp4,7 triliun.
Total aset Indocement tercatat mencapai Rp30,98 triliun, yang terdiri atas aset lancar sebesar Rp10,86 triliun dan aset tidak lancar Rp20,12 triliun.
Sementara itu, total liabilitas perseroan mencapai Rp8,16 triliun, dengan ekuitas sebesar Rp22,82 triliun.
Secara keseluruhan, pertumbuhan penjualan dan laba menunjukkan kinerja Indocement yang solid hingga kuartal III/2026. Meski demikian, perseroan masih perlu mengantisipasi tekanan biaya energi, volatilitas nilai tukar, serta potensi pelemahan permintaan akibat perlambatan aktivitas konstruksi pada musim hujan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: