Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BNI Bidik Penyaluran Kredit Digital Capai Rp5,4 Triliun

        BNI Bidik Penyaluran Kredit Digital Capai Rp5,4 Triliun Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membidik penyaluran kredit digital sebesar Rp5,3-5,4 triliun hingga akhir tahun 2016. Perseroan yakin dapat mencapai tersebut dengan dukungan dari BNI Kredit Digital.

        Pimpinan Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI Anton Siregar mengatakan target tersebut dapat dicapai melalui produk BNI Kredit Digital atau pengajuan kredit kepada BNI melalui www.eform.bni.co.id (e-form) atau aplikasi Electronic-Loan (E-Loan) mobile. Adapun layanan BNI Kredit Digital ini meliputi BNI Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan plafon maksimal Rp25 juta dan BNI Wirausaha dengan plafon Rp1 miliar.

        "Dengan kredit digital, perseroan dapat menikmati penurunan beban biaya operasional, dan pertambahan jumlah nasabah yang signifikan," ujar Anton dalam acara Diskusi Media bertajuk BNI Menuju Kredit Digital di Jakarta, Senin (14/11/2016).

        Dia menuturkan bahwa sejak diluncurkan pada April 2016 perseroan sudah menerima 10.671 aplikasi pengajuan kredit digital. Rinciannya, melalui "E-Loan", terdapat pengajuan 9.694 aplikasi dengan yang diterima 8.683 aplikasi. Adapun melalui "e-form" sebanyak 982 aplikasi. Dari dua program tersebut, BNI sudah menyalurkan kredit digital sebesar Rp4,381 triliun.

        "Kami memperkirakan hingga akhir tahun nilai penyaluran kredit digital dapat bertambah menjadi Rp5,3 triliun-Rp5,4 triliun," terangnya.

        Anton menjelaskan pihaknya juga menjaga kualitas kredit digital ini dengan lebih memprioritaskan penyalurannya ke sektor produktif. Rata-rata bunga yang diberikan ke nasabah melalui kredit digital ini juga sama dengan kredit konvensional yakni satu digit di 9,95 persen.

        "Sedangkan sektornya, kami ingin fokus ke pertanian terlebih dahulu. Baru setelah itu, sektor perikanan, industri pengolahan, perdagangan, dan jasa," tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Fajar Sulaiman
        Editor: Cahyo Prayogo

        Bagikan Artikel: