Kredit Foto: Redaksi
Banyak orang membuka media sosial dengan harapan pikiran menjadi lebih ringan, tetapi justru sering menutupnya dengan perasaan lelah yang berat, suatu kondisi yang kini makin mendapat perhatian ilmiah sebagai fenomena nyata, bukan sekadar sugesti.
Dikutip dari Harvard Health, penggunaan media sosial yang intens dikaitkan dengan perubahan suasana hati dan gejala depresi pada sejumlah orang seiring berjalannya waktu.
Ketika tubuh justru merasa lesu, pikiran penuh, dan emosi menjadi lebih mudah tersulut setelah bermedia sosial, itu bukan sekadar perasaan tanpa alasan.
Psikologi menyebut kondisi ini sebagai bentuk kelelahan mental akibat paparan digital yang terus-menerus, di mana otak dipaksa beroperasi tanpa mendapatkan istirahat yang memadai.
Secara kasat mata, scrolling terlihat pasif karena tidak melibatkan aktivitas fisik yang berarti, namun di tingkat mental aktivitas ini memaksa otak untuk terus menilai, menginterpretasi, dan merespons setiap konten yang muncul, termasuk gambar, suara, teks, dan makna sosialnya dalam hitungan detik.
Desain platform yang memicu sensasi dopamin melalui “likes”, komentar, dan konten yang menarik membuat otak terus mencari rangsangan baru.
Forbes Health menjelaskan bagaimana respons dopamin ini menciptakan semacam keterikatan psikologis yang dapat membuat seseorang merasa sulit berhenti meskipun sudah lelah.
Perubahan emosi yang cepat dari hiburan ke kecemasan hingga rasa iri dalam satu sesi scrolling pun dapat menciptakan kelelahan yang tidak langsung terasa, karena otak belum sempat memasuki mode istirahat yang benar sama sekali setelah paparan konten yang beragam dan intens.
Media sosial juga menempatkan pengguna dalam perbandingan sosial yang konstan, di mana potret kehidupan orang lain yang tampak ideal sering membuat pengguna merasa dirinya kurang, sesuatu yang diteliti oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health dan dikaitkan dengan kecemasan serta penurunan kepuasan hidup jika tidak digunakan secara sadar.
Dalam banyak kasus, penggunaan sebelum tidur memperburuk masalah karena cahaya layar biru dan konten emosional dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, menghambat produksi melatonin, dan membuat tidur menjadi lebih dangkal, sebagaimana ditunjukkan oleh studi kesehatan yang membahas efek cahaya layar terhadap tidur dan mood.
Kondisi ini menghasilkan kombinasi bentuk kelelahan sekaligus kelelahan kognitif karena banyaknya informasi yang harus diproses, kelelahan emosional akibat paparan konten yang intens, dan kelelahan keputusan akibat akumulasi pilihan kecil yang terus dibuat selama scrolling.
Di luar itu, gangguan tidur akibat scrolling malam hari membuat tubuh kehilangan waktu pemulihan alami, sehingga efek lelah terasa menyeluruh: tubuh ingin berhenti tetapi pikiran terus sibuk memproses stimulasi digital yang belum berakhir.
Laporan kesehatan lainnya juga menyoroti bahwa screen time yang berlebihan dapat berdampak pada fokus, perhatian, dan fungsi kognitif, sehingga meskipun tidak ada aktivitas fisik, otak tetap mengalami “keletihan mental”.
Walaupun demikian, hubungan antara media sosial dan kesehatan mental bersifat kompleks bukan semua penelitian menemukan hasil negatif.
Penggunaan yang sehat bisa membantu koneksi sosial dan kesejahteraan jika dilakukan secara sadar dan terkontrol.
Harvard Health mencatat bahwa interaksi aktif dan bermakna di media sosial dapat membawa manfaat tertentu tergantung pada bagaimana dan mengapa seseorang menggunakan platform tersebut.
Penelitian yang lebih baru bahkan menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan media sosial dalam jangka pendek dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental, termasuk penurunan gejala kecemasan, depresi, dan gangguan tidur.
Meski demikian, ahli menekankan bahwa detoks digital bukanlah pengganti perawatan profesional kesehatan mental, melainkan strategi yang bisa melengkapi upaya menjaga kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.
Baca Juga: Dari Produk Hingga Banjir Orderan, Tips Jadi TikTok Affiliate untuk Pemula
Dengan memahami dinamika ini secara lebih sadar, setiap individu dapat mulai membatasi akses instan ke aplikasi, menyisipkan aktivitas non-digital sederhana untuk memberi otak waktu beristirahat, serta menetapkan batas waktu khusus dalam penggunaan media sosial.
Batas yang jelas dan penggunaan yang lebih terkontrol, media sosial dapat berubah dari sumber kelelahan menjadi alat yang digunakan secara sadar untuk koneksi, inspirasi, dan informasi yang bermakna bukan sekadar stimulus instan yang menguras energi mental.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: