Anak-anak Indonesia Suarakan Isu Kekerasan Seksual di Forum Asia Pasifik
Kredit Foto: Wahana Visi Indonesia
Anak-anak dari Jakarta dan Lombok besarta Wahana Visi Indonesia (WVI) menyuarakan langsung pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi terkait kekerasan terhadap anak dalam forum internasional “Violence Ends With Us: Asia Pacific Regional Youth-Led Summit on Ending Violence Against Children” di Antipolo, Provinsi Rizal, Filipina.
Forum tersebut mempertemukan anak-anak dari berbagai negara Asia Pasifik untuk merumuskan agenda dan solusi bersama dalam upaya mengakhiri kekerasan terhadap anak. Hasil pembahasan forum nantinya akan dibawa ke pertemuan tingkat menteri di Manila pada November 2026.
Baca Juga: GAPPRI Kritik Larangan Bahan Tambahan Rokok dan Vape: Ancam Industri Kretek Indonesia
National Director Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora menegaskan pentingnya melibatkan anak dalam proses penyusunan kebijakan perlindungan anak.
“Kami berkomitmen untuk menjangkau, melindungi, dan menyuarakan suara anak-anak Indonesia dari wilayah mana pun. Bagi kami, anak-anak bukan hanya penerima dampak kebijakan, tetapi pemegang hak yang memiliki pandangan, pengalaman dan solusi,” ujar Angelina Theodora.
Ia mengatakan kekerasan terhadap anak masih menjadi tantangan serius, mulai dari perkawinan anak, kekerasan fisik dan psikologis, hingga kekerasan seksual termasuk di ruang digital yang ada di Indonesia.
“Partisipasi anak menjadi bagian penting dari upaya membangun sistem perlindungan anak yang lebih relevan dan berkelanjutan, terutama dalam menghadapi tantangan baru seperti kekerasan berbasis digital,” katanya.
Anak-anak Indonesia dalam forum tersebut membawa tiga isu utama, yakni perkawinan usia anak, dampak jangka panjang perkawinan anak dan kekerasan seksual daring.
Peserta asal Lombok Timur, Siti mengungkapkan bahwa praktik perkawinan anak masih dianggap lumrah di lingkungannya melalui tradisi merariq kodeq.
Ia mengatakan tekanan ekonomi keluarga dan norma sosial membuat banyak anak perempuan rentan menikah di usia muda sehingga pendidikan mereka terhenti.
“Tantangan yang kami alami saat mencoba menyuarakan pendapat adalah minimnya dukungan dan perhatian dari orang dewasa, mereka memandang kami sebelah mata,” ujar Siti.
Menurut dia, anak-anak bersama lembaga terkait kini bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk menyampaikan pesan perlindungan anak sekaligus memberikan edukasi kepada teman sebaya mengenai hak anak menentukan masa depan mereka sendiri.
Anak-anak peserta forum juga menyoroti dampak jangka panjang perkawinan anak yang dinilai sering tidak terlihat.
Setelah menikah, banyak anak menghadapi tekanan mental, kehilangan dukungan sosial, hingga meningkatnya risiko kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, mereka juga kesulitan mendapatkan akses layanan pendampingan dan ruang aman untuk mencari bantuan.
Anak-anak menilai kondisi tersebut memperkuat rantai kemiskinan karena pendidikan yang terputus membuat kesempatan memperoleh pekerjaan layak semakin terbatas.
Selain isu perkawinan anak, peserta juga menyoroti meningkatnya kekerasan seksual daring atau online child sexual exploitation and abuse (OCSEA).
Peserta asal Jakarta, Nazwha mengungkapkan bahwa ruang digital kini menjadi tempat yang rentan terhadap pelecehan seksual, doxing, manipulasi hingga ancaman seksual melalui media sosial dan gim daring.
“Dunia digital seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman untuk belajar, berekspresi, dan membangun keterampilan,” kata Nazwha.
Ia mengatakan tidak adanya mekanisme pelaporan yang jelas serta sulitnya menemukan sosok terpercaya membuat banyak anak takut melaporkan kekerasan seksual daring yang mereka alami.
“Kami berharap ke depannya bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah terutama dalam membantu proses pemulihan mental, serta membentuk sistem hukum yang lebih kuat, responsif, dan berpihak pada anak agar ruang digital benar-benar aman bagi tumbuh kembang kami,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, anak-anak Indonesia bersama peserta dari negara lain juga mengikuti diskusi tematik dan youth-led hackathon untuk merancang solusi dan inisiatif bersama guna mencegah serta menghentikan kekerasan terhadap anak, khususnya terkait perkawinan anak dan kekerasan seksual daring.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar