Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Chip Canggih AS Diperkirakan Bocor ke Cina Sudah Setahun, Departemen Perdagangan Ambil Tindakan

        Chip Canggih AS Diperkirakan Bocor ke Cina Sudah Setahun, Departemen Perdagangan Ambil Tindakan Kredit Foto: Reuters/Florence Lo
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) mengambil langkah lebih serius dalam membatasi ekspor chip kecerdasan buatan (AI) canggih ke Cina. Kebijakan yang diumumkan pada Minggu (31/5/2026) tersebut bakal menutup celah yang selama hampir satu tahun berpotensi dimanfaatkan perusahaan-perusahaan Cina untuk memperoleh chip AI paling mutakhir buatan AS.

        Pedoman baru itu menyasar chip-chip kelas atas seperti prosesor Rubin dan Blackwell milik Nvidia serta MI350x milik AMD. Sebelumnya, anak perusahaan perusahaan Cina yang berbasis di negara lain, seperti Malaysia, diduga masih dapat mengakses chip-chip tersebut meskipun AS berupaya membatasi kemampuan hina dalam mengembangkan teknologi AI.

        Dalam aturan terbaru ini, Departemen Perdagangan AS akan memberlakukan persyaratan lisensi bagi entitas yang berkantor pusat di Cina untuk memperoleh chip canggih, meskipun entitas tersebut beroperasi di luar wilayah Cina.

        Langkah ini diambil setelah Pemerintahan Trump pada Mei 2025 memutuskan tidak menerapkan Aturan Difusi AI yang dicetuskan oleh Pemerintahan Joe Biden. Keputusan Trump tersebut dikhawatirkan menciptakan celah yang membuat anak perusahaan luar negeri Cina dapat membeli chip Nvidia Blackwell tanpa lisensi.

        Mengutip The Nightly, ahli teknologi sekaligus mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Chris McGuire, menyebut celah tersebut sebagai masalah besar. Menurutnya, kondisi itu memungkinkan perusahaan-perusahaan Cina memperoleh chip AI canggih dalam jumlah besar.

        Jumlah chip yang berpotensi diekspor melalui celah tersebut mencapai ratusan ribu unit. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti berapa banyak chip yang telah dikirim.

        Meski memperketat aturan ekspor, pedoman baru itu tidak mengharuskan pusat data menghentikan penggunaan chip yang sudah terpasang ataupun memutus layanan terhadap perangkat komputasi canggih seperti server.

        Kebijakan terbaru ini muncul di tengah hubungan teknologi yang semakin kompleks antara AS dan China. Sebelumnya, Departemen Perdagangan AS disebut sempat memberikan pengecualian kepada sekitar 10 perusahaan China, termasuk Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com, untuk membeli chip AI H200. Namun, tidak ada chip yang akhirnya dikirim.

        Berdasarkan ketentuan yang berlaku sejak Januari 2026, setiap chip H200 harus terlebih dahulu masuk ke AS untuk menjalani pemeriksaan pihak ketiga sebelum dapat diekspor kembali ke China. Selain itu, Nvidia diwajibkan menyetorkan biaya sebesar 25 persen kepada Departemen Keuangan AS untuk setiap penjualan chip tersebut.

        Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Cina tidak mengizinkan perusahaan-perusahaannya membeli chip AI H200 Nvidia. Usai kunjungan ke Beijing pada 13-15 Mei 2026, Trump mengatakan keputusan itu diambil karena Cina ingin mengembangkan industri chip dalam negeri.

        Xi Jinping disebut memilih untuk tidak menyetujui pembelian chip tersebut karena ingin mendorong pengembangan produsen semikonduktor domestik, termasuk Huawei.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: