Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Trump Harus Kendalikan Netanyahu,' Israel Dituding Jadi Tantangan Besar Perdamaian Iran dan Amerika

        'Trump Harus Kendalikan Netanyahu,' Israel Dituding Jadi Tantangan Besar Perdamaian Iran dan Amerika Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut semakin dekat menjadi kenyataan. Namun, di tengah optimisme itu, satu tantangan besar masih membayangi, yakni sikap Israel yang dinilai berpotensi menggagalkan seluruh proses perdamaian.

        Pakar Timur Tengah sekaligus Direktur Konsultan Risiko International Interest, Sami Hamdi menilai keberhasilan perjanjian damai Washington-Teheran kini bergantung sepenuhnya pada kemampuan Presiden AS Donald Trump mengendalikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

        Baca Juga: Kado Istimewa, Perjanjian Damai Iran dan Amerika Jadi Cara Trump Rayakan Ultah ke-80

        "Keberhasilan kesepakatan saat ini sepenuhnya bergantung pada apakah Trump dapat menjaga Netanyahu tetap terkendali," kata Hamdi, dikutip dari Al Jazeera, Senin (15/6).

        Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa setiap kali upaya gencatan senjata diumumkan, Israel justru mengambil langkah yang dapat memperkeruh situasi. Hamdi mengingatkan, saat Pakistan sebelumnya mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, Israel menghentikan serangan terhadap Iran tetapi justru meningkatkan operasi militernya di Lebanon.

        Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa skenario serupa dapat terulang kembali.

        "Ketika Pakistan menegaskan bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata, Trump tampaknya mengubah ketentuan tersebut dengan mengecualikan Lebanon. Kekhawatirannya adalah apakah Trump akan melakukan hal yang sama lagi," ujarnya.

        Hamdi juga menilai masyarakat dan elite politik Israel masih menunjukkan penolakan yang kuat terhadap perjanjian dengan Teheran. Bahkan, menurutnya, serangan Israel ke Lebanon yang terjadi pada hari ini diduga bertujuan mengganggu momentum menuju kesepakatan damai.

        Kekhawatiran lainnya, kata Hamdi, adalah kemungkinan Trump tidak memberikan tekanan kepada Israel untuk menarik pasukannya dari Lebanon selatan. Jika hal itu terjadi, maka keseluruhan kesepakatan damai berisiko kembali berada di ujung tanduk.

        "Walaupun Trump berhasil mencegah Israel menyerang Lebanon, dia mungkin tetap menolak menekan Israel agar menarik pasukannya dari Lebanon selatan. Itu bisa menempatkan seluruh perjanjian dalam bahaya," katanya.

        Sebelumnya, Trump menyambut kesepakatan dengan Iran sebagai terobosan bersejarah yang akan membawa perdamaian dan keamanan bagi Timur Tengah.

        "Kesepakatan besar ini akan membawa perdamaian dan keamanan bagi seluruh kawasan," ujar Trump.

        Trump juga menyebut banyak presiden AS sebelumnya gagal mencapai perdamaian dengan Iran, sedangkan dirinya berhasil membawa kedua negara menuju titik temu.

        Bahkan, Trump mengumumkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz setelah penandatanganan perjanjian akan memungkinkan arus minyak kembali mengalir ke pasar global.

        Di sisi lain, Trump secara terbuka telah memperingatkan Israel agar tidak mengganggu proses perdamaian yang sedang berlangsung. Ia mengecam serangan Israel ke Beirut dan menilai tindakan tersebut tidak seharusnya terjadi, terutama ketika kesepakatan damai dengan Iran sudah sangat dekat.

        "Serangan ke Beirut pagi ini seharusnya tidak terjadi, khususnya pada hari yang sangat penting ketika kita begitu dekat dengan kesepakatan damai dengan Iran," tulis Trump di Truth Social.

        Ia mengakui Israel memiliki hak untuk membela diri, namun menilai serangan yang dibalas Israel tergolong kecil dan tidak menimbulkan korban sehingga tidak seharusnya mengganggu proses diplomasi.

        "Kita sangat dekat dengan kesepakatan yang akan membawa perdamaian ke kawasan, termasuk Lebanon, dan semua pihak harus menahan diri," kata Trump.

        Baca Juga: PSI Sebut Ada Partai Lupa Balas Budi ke Jokowi: Berapa Menteri yang Dulu Diangkat?

        Dengan kesepakatan AS-Iran yang disebut sudah berada di tahap akhir, perhatian kini tertuju pada Israel. Kemampuan Trump mengendalikan sekutu terdekatnya di Timur Tengah dipandang akan menjadi penentu apakah perjanjian bersejarah tersebut benar-benar terwujud atau kembali kandas di tengah jalan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: