Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Memahami Nilai Wajar dalam Trading Forex, Broker Elev8 Ungkap Pengaruh Kebijakan Moneter

        Memahami Nilai Wajar dalam Trading Forex, Broker Elev8 Ungkap Pengaruh Kebijakan Moneter Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Memahami konsep nilai wajar (fair value) jangka panjang dinilai penting bagi trader valuta asing (forex) untuk membaca arah pergerakan mata uang.

        Meski pergerakan harga dalam jangka pendek kerap dipengaruhi sentimen pasar, analisis fundamental tetap menjadi acuan dalam menilai apakah suatu mata uang berada di atas atau di bawah nilai wajarnya.

        Analis Pasar Finansial broker Elev8, Kar Yong Ang, mengatakan pasar mungkin bergerak mengikuti momentum dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, harga cenderung kembali mencerminkan keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

        "Estimasi nilai wajar memang tidak bisa menjadi sinyal titik balik yang instan bagi trader jangka pendek karena mata uang bisa tetap dinilai terlalu tinggi (overvalued) atau terlalu rendah (undervalued) selama bertahun-tahun," ujar Kar Yong Ang.

        Menurutnya, pemahaman terhadap nilai wajar tetap bermanfaat karena membantu trader mengidentifikasi potensi pergerakan harga menuju level fundamentalnya.

        Kar Yong Ang menjelaskan terdapat sejumlah pendekatan yang umum digunakan untuk mengukur nilai wajar mata uang, antara lain:

        Purchasing Power Parity (PPP), yaitu teori yang membandingkan harga barang yang sama di berbagai negara. Pendekatan ini dikenal luas melalui Indeks Big Mac yang diterbitkan The Economist dan digunakan untuk melihat apakah suatu mata uang tergolong mahal atau murah.

        Real Effective Exchange Rate (REER), yakni indeks yang diterbitkan Bank for International Settlements (BIS) dengan membandingkan nilai mata uang terhadap mitra dagang setelah memperhitungkan tingkat inflasi. Indikator ini sering digunakan bank sentral untuk mengukur daya saing ekonomi.

        Penilaian Dana Moneter Internasional (IMF), yang secara berkala menerbitkan analisis valuasi mata uang berbagai negara sebagai referensi jangka panjang bagi pelaku pasar.

        Selain nilai wajar, kebijakan moneter juga menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.

        Kar Yong Ang menjelaskan bahwa secara umum terdapat empat faktor global yang memengaruhi pasar valuta asing, yakni pertumbuhan ekonomi, harga komoditas, sentimen risiko, dan kondisi geopolitik. Sementara dari sisi domestik, faktor utamanya meliputi kebijakan moneter, arus modal, dan neraca perdagangan.

        Menurutnya, perubahan suku bunga bank sentral menjadi indikator yang paling praktis digunakan trader harian.

        Secara umum, kenaikan suku bunga cenderung menarik arus masuk modal (capital inflow) karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Sebaliknya, suku bunga rendah dapat mendorong arus keluar modal (capital outflow), terutama di negara-negara maju.

        Kar Yong Ang juga mencontohkan penerapan analisis tersebut pada pasangan mata uang AUD/USD.

        Ia menyarankan trader memperhatikan selisih (spread) imbal hasil obligasi pemerintah Australia dan Amerika Serikat, baik tenor dua tahun maupun 10 tahun. Perubahan spread tersebut dapat menjadi petunjuk arah pergerakan pasangan mata uang.

        Menurutnya, AUD/USD cenderung menguat ketika spread imbal hasil melebar dan melemah ketika spread menyempit.

        Analisis ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi divergensi. Sebagai contoh, apabila harga AUD/USD mencetak level tertinggi baru tetapi spread obligasi tidak ikut meningkat, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa kenaikan mulai kehilangan momentum dan berpotensi berbalik arah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: