Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Stablecoin Naik Kelas, Bank Besar Dunia Mulai Integrasikan USDC

        Stablecoin Naik Kelas, Bank Besar Dunia Mulai Integrasikan USDC Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bank-bank besar di dunia mempercepat integrasi stablecoin ke layanan keuangan institusional, ditandai dengan langkah Standard Chartered dan Bank of New York Mellon (BNY) yang memperluas akses klien terhadap USDC. Perkembangan tersebut menunjukkan stablecoin mulai bergeser dari instrumen transaksi di pasar kripto menjadi bagian dari infrastruktur pembayaran, kustodian, dan penyelesaian transaksi lembaga keuangan.

        Standard Chartered akan memberikan akses langsung kepada klien institusional untuk mencetak dan menebus USDC yang diterbitkan Circle Internet Group. Langkah itu menyusul BNY yang memperluas dukungan USDC dengan memungkinkan klien institusional menyimpan, mencetak, dan menebus stablecoin melalui infrastruktur bank.

        BNY mengelola aset sekitar US$59 triliun. Bersama Standard Chartered, bank tersebut masuk kategori bank penting sistemik global atau global systemically important banks menurut Komite Basel.

        Perkembangan ini mencerminkan perubahan strategi bank dalam mengadopsi aset digital. Alih-alih membangun stablecoin sendiri, sejumlah lembaga keuangan memilih memanfaatkan jaringan stablecoin yang telah memiliki likuiditas, hubungan perbankan, dan kerangka kepatuhan.

        “Bank-bank tidak lagi bertanya apakah mereka akan menggunakan stablecoin. Mereka sedang memutuskan bagaimana mereka akan menggunakannya,” kata Pendiri dan CEO Agant Andrew MacKenzie, mengutip Coindesk, Jakarta, Senin (6/7/2026). 

        Chainalysis memperkirakan volume penyelesaian transaksi stablecoin dapat mencapai US$1 kuadriliun per tahun pada 2030. Pertumbuhan tersebut didorong penggunaan stablecoin dalam pembayaran lintas negara, pengelolaan kas, penyelesaian transaksi, dan layanan perbendaharaan.

        Di sisi lain, persaingan penerbit stablecoin juga meningkat. Circle menghadapi rencana peluncuran OpenUSD, stablecoin pesaing yang didukung sejumlah perusahaan, termasuk Coinbase, Stripe, dan BlackRock. CEO Circle Jeremy Allaire menyatakan posisi USDC ditopang likuiditas, hubungan perbankan, dan persetujuan regulasi yang dibangun selama hampir satu dekade.

        Salah satu pendiri dan mitra Steakhouse Financial Adrian Cachinero Vasiljevic menilai nilai stablecoin tidak hanya ditentukan oleh penerbitan token, tetapi juga oleh jaringan institusi dan pengguna yang mendukungnya.

        “Jaringan lah yang menciptakan nilai,” ujarnya. “Stablecoin itu sendiri hampir menjadi hal sekunder.”

        Pengembangan stablecoin juga bergerak ke mata uang selain dolar AS. Di Eropa, konsorsium Qivalis yang terdiri atas 37 lembaga keuangan mengembangkan Euro On-Chain atau EUOC. Inisiatif tersebut diarahkan untuk menyediakan instrumen penyelesaian transaksi berbasis euro di tengah dominasi stablecoin dolar AS yang mencakup lebih dari 99% kapitalisasi pasar stablecoin.

        CEO Qivalis Jan-Oliver Sell mengatakan ketersediaan stablecoin euro diperlukan agar bank dan perusahaan Eropa tidak harus mengonversi aset ke dolar AS dalam transaksi berbasis blockchain.

        “Jika kami tidak memiliki euro di blockchain, bank-bank akan menggunakan dolar karena tersedia, ada, dan memiliki likuiditas yang tinggi,” kata Sell.

        Baca Juga: Aturan Turunan UUP2SK Diharapkan Perjelas Peran Bursa dan Pedagang Kripto

        Baca Juga: Terungkap! Donald Trump Raup Lebih dari Rp20 Triliun dari Bisnis Kripto Saat Jadi Presiden AS

        Selain EUOC, stablecoin berbasis euro yang telah dikembangkan antara lain EUR CoinVertible dari Société Générale dan EURXT dari Crédit Agricole. Namun, pelaku industri menilai keberhasilan stablecoin akan bergantung pada kemampuan penerbit membangun jaringan pengguna, bank, dan penyedia layanan pembayaran.

        “Siapa pun dapat menerbitkan stablecoin. Namun jika tidak ada yang menggunakan stablecoin tersebut, maka stablecoin itu tidak bernilai. Nilai dari stablecoin adalah jaringannya,” kata Cachinero Vasiljevic.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: