Habib Bahar Soal Pengeroyokan di Pejompongan: Pokoknya Itu Pelaku, Mau Ormas-ormas, Mau GRIB...
Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Habib Bahar bin Smith angkat suara keras setelah kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat. Ia memberikan kecaman terhadap siapapun yang terlibat dan telah menyebabkan meninggalnya seorang warga bernama Bambang Setiawan.
Ia menegaskan bahwa siapa pun yang terbukti terlibat dalam kekerasan tersebut harus bertanggung jawab, termasuk jika pelakunya berasal dari organisasi masyarakat (ormas) maupun kelompok tertentu seperti Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB).
Baca Juga: Jokowi: Kekuasaan Itu Hanya Sementara, Hanya Sampiran
“Pokoknya itu pelaku semua harus itu, harus itu semua. Mau ormas-ormas, mau GRIB. Mau siapapun... Mau pelakunya aparat kek, mau pelakunya ormas kek,” ujar Habib Bahar, dikutip Senin (31/8/2026).
Habib Bahar menilai kematian seorang warga sipil dalam situasi kericuhan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Karena itu, ia meminta pihak yang bertanggung jawab tidak berlindung di balik identitas organisasi ataupun status tertentu.
GRIB Jaya kemudian ikut terseret dalam polemik setelah muncul berbagai informasi di media sosial yang mengaitkan kelompok tersebut dengan kericuhan.
Adapun Hercules sebagai pemimpin dari kelompok tersebut membantah dirinya pernah memerintahkan anggotanya untuk melakukan pembunuhan maupun kekerasan dalam aksi tersebut. Ia juga mengaku telah melarang anggotanya ikut dalam demonstrasi.
Habib Bahar sendiri telah menghubungi Hercules. Dari percakapan itu, sosok itu menyatakan bahwa tidak ada anak buahnya yang berada di Pejompongan saat kericuhan.
“Tadi saya telepon Hercules. Hercules bilang, 'Bib, tidak ada anak buah saya di Pejompongan. Kami cuma batas LIPI aja, Bib',” kata Habib Bahar.
Sebelumnya, Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya buka suara soal keberadaan Ketua Umumnya, Hercules, di Demo 27 Agustus 2026. Organisasi tersebut menegaskan kehadiran Hercules di lokasi bukan untuk memprovokasi massa atau terlibat dalam bentrokan.
Divisi Hukum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya Wilson Colling mengakui sosok itu memang berada di lokasi kericuhan bersama sejumlah anak buahnya. Menurut Wilson, keberadaannya merupakan bagian dari upaya persuasif untuk memantau situasi dan menjaga kondisi tetap kondusif.
Baca Juga: Dikalahkan Pengurus Ponpes, Dua Menterinya Prabowo Gagal Jadi Ketum PBNU
"Karena itu, keberadaan individu tertentu di suatu lokasi tidak dapat serta merta ditafsirkan sebagai representasi tindakan organisasi, terlebih tanpa adanya bukti mengenai perintah, koordinasi, ataupun keterlibatan dalam suatu tindak pidana," kata Wilson.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar