40 Ribu Siswa Keracunan MBG Tanpa Tersangka, Ekonom INDEF Desak Pemerintah Revisi Total
Kredit Foto: Istimewa
Keracunan massal yang menimpa ratusan santri di Sidoarjo kembali memicu sorotan tajam terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya, mendesak pemerintah dan DPR untuk segera merevisi total skema program tersebut sebelum memakan korban jiwa.
Menurut catatan Berly, sejak program MBG digulirkan, total korban keracunan secara nasional diperkirakan telah melampaui angka 40 ribu siswa.
Ironisnya, hingga saat ini belum ada proses hukum yang jelas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab, terlebih sudah melewati pencopotan dua Kepala BGN, Dadan Hindayana dan Naniek S Deyang.
"Belum ada orang yang jadi tersangka, apalagi kasusnya masuk pengadilan. Tidak ada perubahan besar dalam skema dan mekanisme program, padahal sudah dua kali ganti kepala," ungkap Berly.
Kritik keras ini mencuat menyusul insiden terbaru pada Selasa (1/9/2026) sore di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Tercatat sebanyak 344 siswa dan santri dari 19 sekolah, serta lebih dari 400 santri dari Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Tanggulangin, dilarikan ke rumah sakit akibat keracunan usai menyantap jatah MBG.
Berly mempertanyakan apakah rentetan insiden ini masih belum cukup untuk membuka mata para pemangku kebijakan.
Ia berharap doa dari ratusan santri yang terzalimi, beserta para orang tua, guru, dan kiai di Sidoarjo, dapat menembus 'pintu langit' dan menjadi titik balik perbaikan program.
"Apakah doa 400 santri di Sidoarjo yang keracunan dan dizholimi beserta orang tua, keluarga dan guru serta Kyai akan sampai di pintu langit dan jadi titik balik?," kata Berly dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Menggambarkan urgensi situasi saat ini, Berly mengutip pernyataan terkenal John Kerry, mantan Menteri Luar Negeri AS sekaligus veteran Perang Vietnam, saat memberikan kesaksian di hadapan DPR Amerika Serikat untuk menarik pasukan militer.
"How do you ask a man to be the last man to die for a mistake?" (Bagaimana Anda meminta seseorang menjadi orang terakhir yang mati demi sebuah kesalahan?)
Kutipan tersebut menjadi analogi tajam bagi pelaksanaan program MBG saat ini. Masyarakat dinilai perlu menuntut pertanggungjawaban pemerintah.
"Masyarakat perlu bertanya ke pemerintah dan DPR, berapa banyak anak lagi yang perlu keracunan supaya program MBG direvisi total? Jangan sampai ada korban jiwa," pungkasnya tegas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: