Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Mengapa Manusia Sering Menggagalkan Rencananya Sendiri?

        Mengapa Manusia Sering Menggagalkan Rencananya Sendiri? Kredit Foto: Unsplash/Rendy Novantino
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bayangkan sebuah skenario iseng yang mungkin hanya ada di film. Ada dua tawaran yang harus diputuskan detik ini juga. Pilihan pertama adalah segepok uang tunai senilai satu juta dolar yang langsung ditransfer ke rekening.

        Pilihan kedua jauh lebih tidak masuk akal: sekeping koin sen yang nilainya akan berlipat ganda setiap hari selama sebulan penuh.

        Wajar saja jika insting rasional manusia akan langsung menyambar uang jutaan dolar itu. Logikanya sederhana: untuk apa menukar kekayaan instan dengan recehan yang mungkin hanya akan berakhir di dasar mesin cuci?

        Kalau kita memantau koin receh itu sampai hari ke-20, nilainya memang baru merangkak di angka lima ribuan dolar. Masih sangat jauh tertinggal. Si pemilih koin ini pasti sudah kenyang ditertawakan.

        Namun, komedi tragis baru terjadi ketika kalender menyentuh hari ke-31. Angka recehan tadi meledak, menembus 10 juta dolar.

        Fenomena koin ini seolah menampar realitas kehidupan modern yang serba instan. Ada dambaan besar untuk segera melihat hasil akhir tanpa mau melewati proses yang membosankan. Pencapaian-pencapaian monumental selalu dipuja, sementara rutinitas berdarah-darah di baliknya sering kali dilewati begitu saja.

        Padahal, hal-hal besar di dunia ini bekerja dalam diam, persis seperti koin sen tadi.

        Seorang pemecah batu, misalnya, bisa menghantam bongkahan batu raksasa hingga seratus kali tanpa meninggalkan goresan pun (Clear, 2018). Usaha itu terlihat seperti kesia-siaan.

        Namun, pada ayunan palu ke-101, batu itu mendadak terbelah menjadi dua. Batu tersebut hancur bukan karena palunya tiba-tiba memiliki sihir pada pukulan terakhir, melainkan akibat akumulasi tenaga dari seratus pukulan sebelumnya yang secara kasatmata tampak nihil hasilnya (Clear, 2018).

        Siklus serupa juga terjadi pada pohon bambu Cina. Selama empat tahun disiram dan dipupuk, yang tumbuh sering kali hanyalah rasa sabar petaninya. Tidak ada tunas yang muncul menembus tanah. Namun, saat memasuki tahun kelima, bambu itu tiba-tiba melesat puluhan meter dalam waktu enam minggu (Covey, 1989).

        Selama empat tahun yang dianggap membuang-buang waktu tersebut, bambu sesungguhnya sedang sibuk membangun fondasi akar raksasa di bawah tanah agar tidak mudah tumbang saat badai datang.

        Kita Ingin Hasil Tanpa Proses

        Ironisnya, sifat dasar manusia sering kali mengharapkan masa panen tiba tanpa pernah mau menyentuh cangkul.

        Ada keinginan keras agar hidup berubah, tetapi kebiasaan lama tetap dipertahankan mati-matian. Mengidamkan tubuh yang bugar, tetapi setiap pagi dihabiskan untuk bernegosiasi dengan alarm. Mengeluhkan kondisi finansial, tetapi keranjang belanja daring tidak pernah dibiarkan kosong.

        Singkatnya, manusia ingin nasibnya berubah, asalkan bukan mereka yang harus repot-repot melakukan perubahan itu.

        Di titik inilah letak rintangan terbesar yang sering luput dari perhatian. Penghalang utama menuju pencapaian sering kali bukan resesi ekonomi atau lingkungan yang tidak mendukung, melainkan sesuatu yang bersarang dengan nyaman di dalam kepala sendiri.

        Kondisi ini dikenal sebagai sabotase diri.

        Sabotase diri adalah situasi ketika seseorang secara tidak sadar terus menjegal dirinya sendiri saat berlari menuju impian. Seseorang tahu persis apa yang seharusnya dikerjakan, tetapi enggan mengeksekusinya.

        Hebatnya, sabotase diri tidak pernah datang dengan membawa ancaman. Ia justru hadir lewat bisikan alasan yang terdengar sangat masuk akal: menunda pekerjaan dengan dalih menunggu suasana hati yang tepat atau merasa ilmunya belum memadai.

        Kita Takut pada Perubahan

        Brianna Wiest memiliki pandangan yang menarik tentang hal ini. Menurutnya, sabotase diri bukanlah bukti bahwa seseorang lemah atau malas. Justru sebaliknya, itu adalah cara pikiran bawah sadar mencoba melindungi kita dari sesuatu yang dianggap berisiko.

        Hal inilah yang menjelaskan mengapa seseorang bisa bertahan bertahun-tahun di lingkungan kerja yang merusak mental. Penderitaan yang sudah dikenal sering kali terasa lebih menenangkan daripada perubahan yang penuh ketidakpastian.

        Anehnya, banyak orang sebenarnya tidak terlalu takut gagal. Yang lebih menakutkan justru kalau berhasil.

        Saat seseorang berhasil mencapai apa yang diimpikannya, ia tidak lagi memiliki ruang untuk beralasan.

        Keberhasilan menelanjangi semua dalih tentang keadaan yang tidak memihak dan pada akhirnya menuntut tanggung jawab penuh atas arah hidup yang baru (Wiest, 2020).

        Gagal lebih mudah karena selalu ada kambing hitam yang bisa ditunjuk. Sebaliknya, sukses menuntut kedewasaan untuk berdiri sendiri.

        Jangan Pulang Sebelum Panen

        Kalau ketiga kisah tadi mengajarkan satu hal, mungkin pelajarannya sederhana: manusia sering menyerah terlalu cepat.

        Keajaiban rupanya hanyalah nama lain dari rutinitas membosankan yang diulang-ulang tanpa henti, bahkan ketika tidak ada penonton yang memberi tepuk tangan.

        Musuh paling mematikan ternyata bukanlah kerasnya kehidupan, melainkan pikiran sendiri yang terus mencari alasan untuk kembali ke zona nyaman.

        Tragedi kehidupan yang sesungguhnya jarang berupa kegagalan total, melainkan keputusan untuk menyerah tepat pada hari ke-20 atau pada pukulan palu ke-99, sesaat sebelum masa panen benar-benar tiba.

        Mungkin karena itu, sebagian besar mimpi tidak pernah benar-benar gagal. Mimpi-mimpi itu hanya ditinggalkan terlalu cepat.

        Mereka berhenti diguyur sebelum sempat tumbuh, berhenti dipukul sebelum batu retak, dan berhenti diperjuangkan sesaat sebelum panen tiba.

        Bukan karena mustahil diwujudkan, melainkan karena pemiliknya pulang lebih dulu.

        Dan sering kali, jarak antara hidup yang kita jalani hari ini dan hidup yang kita impikan ternyata bukan soal bakat, keberuntungan, atau nasib.

        Jarak itu hanyalah beberapa langkah lagi yang tidak sempat kita ambil.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: