'Dosa-dosa' Fatal Purbaya di Mata Prabowo: dari Pangkas Anggaran MBG dan Nyenggol Setoran Danantara
Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
Pencopotan mendadak Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan (Menkeu) oleh Presiden Prabowo Subianto terus menuai sorotan.
Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, menilai langkah tegas Istana ini adalah akumulasi dari ketidakmampuan Purbaya dalam mengelola ekonomi sekaligus buntut dari banyaknya konflik internal di lingkaran kekuasaan.
Menurut Fernando, sejak awal pengangkatannya satu tahun lalu, sosok Purbaya memang sudah diwarnai gelombang penolakan. Publik dan pasar meragukan kapasitasnya dalam memimpin Kementerian Keuangan di tengah tekanan ekonomi yang berat.
"Apalagi Purbaya dianggap terlalu overconfident ketika dipercaya Prabowo mengurusi keuangan negara," kata Fernando kepada Warta Ekonomi, Selasa (15/9/2026).
Lebih jauh, Fernando membeberkan bahwa alasan utama pencopotan tersebut bukan sekadar soal indikator ekonomi makro, melainkan ketidakmampuan Purbaya mengakomodasi visi Presiden Prabowo yang dikenal jor-joran dalam mengucurkan anggaran untuk program unggulan.
Alih-alih mencari solusi pendanaan, Purbaya justru kerap memicu konflik dengan orang-orang di sekitar Prabowo atau ring 1 Istana. Fernando mencatat setidaknya ada tiga polemik krusial yang menjadi 'dosa' fatal Purbaya, yaitu:
Pertama soal polemik impor mobil operasional, saat itu terdapat perbedaan pandangan terkait kebijakan impor mobil dari India untuk kendaraan operasional Kabinet Merah Putih.
"Kemudian, ada pemotongan anggaran MBG, kebijakan Purbaya yang berani memangkas anggaran program MBG dalam jumlah yang sangat besar," jelasnya.
Terbaru masalah setoran jumbo ke Danantara, karena terjadi konflik tarik-ulur terkait kewajiban setoran dividen senilai Rp120 triliun dari badan investasi Danantara ke APBN 2026.
Di luar masalah politik anggaran, rapor merah Purbaya juga terlihat dari kinerjanya di pasar keuangan. Ia dinilai gagal memperbaiki gairah pasar modal dan tak berkutik menahan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.
Kondisi ini membuat Istana harus segera mengambil langkah antisipatif. Berdasarkan proyeksi sejumlah ekonom dunia, perekonomian global akan segera memasuki fase gejolak dan ketidakpastian yang jauh lebih parah.
"Tentu beberapa persoalan tersebut membuat Prabowo memutuskan mencopot Purbaya. Kondisi global saat ini sangat membutuhkan sosok Menteri Keuangan yang mampu menghadapi dan mengeksekusi penyelesaian persoalan dengan cepat," pungkas Fernando.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat