Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekonom Ingatkan Suahasil Soal Risiko Kebijakan Fiskal ke Kelas Menengah

        Ekonom Ingatkan Suahasil Soal Risiko Kebijakan Fiskal ke Kelas Menengah Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, diminta berhati-hati dalam merancang kebijakan fiskal agar tidak semakin menekan daya beli kelas menengah. Kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah memiliki peran besar terhadap konsumsi nasional.

        Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah mencakup 66,35% dari total penduduk Indonesia pada 2024. Meski bukan kelompok terbesar secara pendapatan, konsumsi kedua kelompok tersebut mencapai 81,49% dari total konsumsi masyarakat.

        Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengatakan besarnya kontribusi tersebut membuat pemerintah perlu memperhitungkan dampak kebijakan fiskal terhadap daya beli masyarakat kelas menengah.

        Menurutnya, kebijakan yang bertujuan memperkuat penerimaan negara tidak seharusnya hanya melihat kemampuan pemerintah mengumpulkan uang, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap konsumsi rumah tangga.

        “Kalau kelas menengah dan menuju kelas menengah ini tertekan, maka yang terdampak bukan hanya rumah tangganya, tetapi juga konsumsi nasional. Mereka adalah salah satu mesin utama perekonomian,” kata Achmad dalam wawancara, Senin (21/9/2026).

        Achmad menilai persoalan kelas menengah bukan semata-mata mengenai satu kebijakan yang memberikan beban besar. Tekanan justru dapat muncul dari akumulasi berbagai kebijakan yang secara individual terlihat kecil, tetapi pada akhirnya mengurangi pendapatan yang dapat dibelanjakan masyarakat.

        “Masalah kelas menengah bukan satu kebijakan besar yang tiba-tiba membuat mereka miskin. Persoalannya adalah banyak kebijakan kecil yang masing-masing dianggap tidak terlalu berat, tetapi ketika ditumpuk dalam satu neraca rumah tangga menjadi beban besar,” ujarnya.

        Karena itu, Achmad meminta Suahasil tidak hanya melihat kesehatan APBN dari sisi defisit dan penerimaan negara. Menurutnya, kesehatan fiskal juga perlu dilihat dari kemampuan masyarakat mempertahankan konsumsi.

        “Pemerintah perlu menjaga keseimbangan. Kredibilitas fiskal penting, tetapi jangan sampai upaya menjaga kredibilitas justru dilakukan dengan mengurangi disposable income masyarakat yang menjadi penopang konsumsi,” katanya.

        BPS sendiri menyebut, kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah sebagai kelompok yang memiliki peran krusial sebagai bantalan ekonomi nasional. BPS juga menekankan bahwa penguatan daya beli kelompok tersebut penting untuk memperkuat permintaan masyarakat secara keseluruhan.

        Baca Juga: Bukan Cuma Penindakan, Suahasil Ingatkan 3 Fungsi Penting Bea Cukai

        Baca Juga: Suahasil Bicara soal Nasib Pejabat Kemenkeu yang Dilantik Purbaya

        Achmad mengatakan tantangan Suahasil ke depan adalah memastikan kebijakan penerimaan negara tidak hanya mengejar kelompok yang paling mudah terdeteksi dan dipungut pajak. Pemerintah, menurutnya, perlu lebih banyak mengejar kebocoran penerimaan dan aktivitas ekonomi yang selama ini belum optimal masuk dalam basis pajak.

        Dengan kontribusi konsumsi yang mencapai 81,49%, tekanan terhadap kelas menengah berpotensi memiliki dampak lebih luas terhadap perekonomian. Karena itu, kebijakan fiskal di bawah Suahasil akan diuji bukan hanya dari kemampuan menjaga defisit dan penerimaan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga daya beli masyarakat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: