Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengungkap racikanya dalam menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 6%. Ia menyatakan, APBN tidak hanya diarahkan sebagai penahan guncangan ekonomi, tetapi juga menjadi katalis untuk menggerakkan konsumsi, investasi hingga ekspor.
“Di tengah dunia yang makin bergejolak, kebijakan fiskal harus makin adaptif dan mampu menyesuaikan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat,” ujar Suahsil, Rabu, (23/9/2026).
Suahasil mengatakan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027. Untuk mencapai target tersebut, kebijakan fiskal perlu bekerja bersama dengan investasi, sektor swasta dan kebijakan moneter.
Salah satu racikan yang disiapkan adalah mendorong investasi. Suahasil menyebut pertumbuhan investasi pada semester I 2026 mencapai 6,87%. Ke depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan investasi sekitar 7% atau lebih untuk menopang target pertumbuhan ekonomi 6%.
Dari sisi belanja, pemerintah juga mendorong APBN menjadi lebih adaptif. Hingga akhir Agustus 2026, realisasi belanja negara mencapai 59,7% dari pagu, sementara pendapatan negara telah mencapai 65,2% dari target. Suahasil menilai belanja perlu terus didorong agar memberikan dampak terhadap perekonomian, namun tetap dilakukan secara efisien.
Di sisi penerimaan, pemerintah akan memperkuat kepatuhan pajak, memperluas basis pajak dan meningkatkan efektivitas Coretax. Strategi tersebut diarahkan untuk meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperbaiki tax ratio.
Pemerintah juga mempertahankan instrumen insentif perpajakan sebagai bagian dari strategi mendorong aktivitas ekonomi. Suahasil mencatat nilai tax expenditure atau penerimaan pajak yang tidak dipungut akibat pemberian insentif diperkirakan mencapai Rp576 triliun pada 2026, setara sekitar 2,2% terhadap PDB.
“Insentif tersebut tidak semata-mata berarti penerimaan negara yang hilang. Kebijakan itu dirancang untuk menjaga aktivitas ekonomi, termasuk konsumsi dan investasi, sehingga tetap memberikan dampak terhadap perekonomian,” kata Suahasil di Jakarta.
Di sisi pembiayaan dan investasi, pemerintah juga menempatkan Danantara sebagai salah satu katalis. Suahasil menjelaskan Danantara bukan bagian dari APBN, tetapi dapat menjadi instrumen investasi yang menghubungkan kekuatan BUMN dan sektor swasta untuk mendorong investasi di sektor-sektor prioritas.
Baca Juga: Kabar Suahasil Lantik Lagi 14 Pejabat Dicopot Purbaya Ternyata Hoaks, Ini Faktanya
Baca Juga: Suahasil Mau Bersih-Bersih di Bea Cukai, Integritas Pegawai Jadi Harga Mati
Sementara itu, untuk menjaga keberlanjutan fiskal, defisit APBN 2026 diperkirakan berada di sekitar 2,85% terhadap PDB. Pemerintah kemudian merancang R-APBN 2027 dengan defisit 2,4% terhadap PDB. Dengan kombinasi peningkatan penerimaan, efisiensi belanja, investasi dan pembiayaan, pemerintah menargetkan APBN tetap sehat sekaligus mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.
“Kalau APBN-nya sehat, maka dunia usaha bisa meyakini bahwa program-program yang ada di dalam APBN itu akan bisa dijalankan sehingga dunia usaha akan memiliki kredit stabilitas,” ujar Suahasil dalam optimisnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra