Kredit Foto: Dokumentasi BGN
Pemanfaatan pangan lokal dinilai dapat memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus membuka peluang bagi perekonomian masyarakat di sekitar sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ahli Gizi di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Nani Maulidia, mengatakan bahan pangan lokal dapat digunakan sebagai menu MBG sepanjang memenuhi prinsip gizi seimbang, aman dikonsumsi, disukai anak, tersedia di daerah, dan sesuai dengan alokasi biaya.
“Tujuan pemerintah mengadakan program MBG tentu untuk meningkatkan kualitas status gizi anak bangsa. Selain itu, juga untuk memberdayakan perekonomian masyarakat setempat,” ujar Nani.
Menurut Nani, satu porsi makanan bergizi perlu mencakup sumber karbohidrat, protein hewani atau nabati, lemak, vitamin, dan mineral. Komposisi tersebut dapat dipenuhi melalui makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, serta buah yang tersedia di masing-masing daerah.
Nani mengatakan menu MBG yang pernah diamatinya telah memuat unsur gizi seimbang. Penilaian tersebut didasarkan pada makanan yang diterima anaknya di sekolah.
“Kalau saya lihat dari jenis bahan makanannya, sudah mencakup standar gizi seimbang. Dalam makanannya sudah ada karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Secara estimasi, porsinya juga sudah mencukupi untuk anak seusianya,” katanya.
Meski demikian, menurut Nani, bahan pangan lokal tidak dapat digunakan hanya karena mudah diperoleh atau merupakan makanan khas daerah. Kandungan gizi, porsi, keamanan pangan, penerimaan anak, ketersediaan bahan baku, serta efisiensi biaya perlu diperhitungkan dalam penyusunan menu.
Di Kabupaten Sanggau, sejumlah bahan pangan lokal seperti pakis, rebung, daun katuk atau cangkok manis, labu kuning, dan tebu telur dapat diolah menjadi menu MBG.
Salah satu yang dinilai berpotensi dikembangkan adalah sayur rampai, yang menggabungkan beberapa jenis sayuran dalam satu masakan. Kombinasi tersebut dapat memberikan variasi sumber vitamin dan mineral bagi anak.
“Sayur rampai tidak hanya terdiri dari satu bahan. Bisa ada rebung, daun katuk, labu kuning, dan tebu telur. Itu bagus sekali karena kandungan vitamin dan mineralnya menjadi lebih beragam,” jelas Nani.
Pemanfaatan bahan pangan lokal juga dapat memperpendek rantai pasok antara produsen pangan dan dapur MBG. Namun, pengelola SPPG tetap perlu mempertimbangkan faktor musim dan harga.
Ikan sungai, misalnya, dapat menjadi sumber protein ketika pasokannya tersedia. Penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan harga dan anggaran program.
Kreativitas pengolahan juga diperlukan agar bahan lokal lebih mudah diterima anak. Nani mencontohkan ikan yang diolah menjadi nugget tanpa tulang dan dicampur dengan wortel atau labu siam. Sementara itu, tebu telur dapat dibuat menjadi perkedel dengan tambahan ayam.
“Bahan makanan bisa diinovasi cara pengolahannya. Ikan dapat dibuat menjadi nugget dan dicampur dengan sayuran. Kandungan lauk dan sayurnya bisa didapat dalam satu makanan,” ujarnya.
Menurut Nani, variasi menu penting karena selera anak berbeda-beda. Survei sederhana dan uji penerimaan dapat digunakan SPPG untuk mengetahui menu yang lebih disukai tanpa mengurangi standar gizinya.
Di sisi lain, inovasi menu harus berjalan bersama penerapan keamanan pangan. Hal tersebut mencakup kualitas bahan baku, kebersihan dapur, kesehatan petugas, penggunaan penutup kepala, apron, masker dan sarung tangan, serta pemisahan peralatan untuk bahan mentah dan makanan matang.
Penyimpanan bahan basah dan kering juga perlu dipisahkan. Pengelola perlu menerapkan prinsip bahan yang lebih dahulu masuk digunakan lebih dahulu.
“Keamanan pangan dan higienitas penting sekali. Prosesnya harus diperhatikan sejak pengolahan sampai pendistribusian kepada konsumen,” tegasnya.
Makanan juga perlu dimasak hingga matang, ditempatkan dalam wadah yang aman dan mudah dibersihkan, serta didistribusikan tepat waktu.
Baca Juga: Guru Protes Disuruh Cium Makanan MBG Seperti Anjing Pelacak, BGN Akhirnya Buka Suara
Baca Juga: Biaya Kuliah Gratis 2,8 Juta Mahasiswa PTN Tak Sampe Setengah Tahun MBG
Nani menilai kolaborasi antara ahli gizi, pengelola dapur, petani, dan tokoh kuliner daerah dapat membantu menghasilkan menu MBG yang memenuhi standar gizi sekaligus dekat dengan selera anak.
Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan variasi menu, tetapi juga berpotensi menciptakan permintaan bagi produk pangan masyarakat setempat. Di sisi lain, anak dapat diperkenalkan sejak dini pada pola makan yang beragam dan seimbang.
“Kalau sejak dini anak sudah terbiasa disuguhkan makanan bergizi seimbang, kebiasaan itu akan terbawa sampai besar,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: