- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
10 Juta Ton Biomassa RI Bisa Buka 150 Ribu Green Jobs, Ini Strategi PLN EPI
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkirakan pengembangan ekosistem bioenergi berbasis pemanfaatan 10 juta ton biomassa berpotensi menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau (green jobs) di Indonesia.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan peluang pekerjaan tersebut akan muncul di sepanjang rantai pasok bioenergi, mulai dari penyediaan bahan baku, pengumpulan biomassa, pengolahan, transportasi, hingga pemanfaatannya sebagai bahan bakar pembangkit.
“Green job yang tercipta dari 10 juta ton saja itu bisa mencapai sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau baru,” ujar Hokkop dalam acara West Java Leader Fest yang diselenggarakan Yayasan IDNextLeader dan Telkom University di Bandung.
Menurut dia, pengembangan bioenergi tidak hanya berkontribusi terhadap transisi energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat daerah. Rantai pasok biomassa dapat melibatkan petani, koperasi, BUMDes, agregator, pelaku usaha, hingga penyedia jasa logistik.
Selain menciptakan lapangan kerja, pemanfaatan 10 juta ton biomassa tersebut diproyeksikan mampu berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 12 juta ton CO2e.
Potensi Biomassa Masih Besar
Hokkop menyebut Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang melimpah, mulai dari kayu, residu pertanian, sekam padi, hingga berbagai sumber hayati lainnya.
Berdasarkan pemetaan PLN EPI, pemanfaatan biomassa saat ini mencapai sekitar 30,7 juta ton. Sementara potensi biomassa yang belum dimanfaatkan diperkirakan mencapai sekitar 60,6 juta ton.
Meski demikian, potensi tersebut masih bersifat indikatif dan membutuhkan kajian lebih lanjut terkait aspek teknis, keekonomian, akses bahan baku, serta kesiapan rantai pasok.
“Potensi biomassa harus tetap mempertimbangkan kesiapan dari hulu hingga hilir agar pengembangannya dapat berjalan secara berkelanjutan,” kata Hokkop.
PLN EPI sendiri terus memperkuat ekosistem biomassa. Sepanjang periode 2023–2026, perusahaan telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton.
Saat ini, pasokan biomassa untuk kebutuhan cofiring pembangkit masih didominasi bahan baku berbasis kayu dengan porsi lebih dari 77 persen.
Dorong Cofiring PLTU Batu Bara
Salah satu program utama pengembangan bioenergi PLN EPI adalah implementasi cofiring biomassa pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
PLN EPI mencatat terdapat 52 lokasi pembangkit batu bara dengan total kapasitas terpasang sekitar 18.154 MW yang memiliki potensi penerapan cofiring. Kebutuhan biomassa untuk mendukung program tersebut diperkirakan mencapai sekitar 9 juta ton per tahun.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya sektor energi dalam mendukung target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.
Selain biomassa untuk cofiring, pengembangan bioenergi juga diarahkan pada berbagai produk energi lain seperti biochar, syngas, biohidrogen, compressed biogas (CBG), biofuel, hingga bioetanol.
Pemanfaatannya akan diperluas untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembangkit listrik, pengganti bahan bakar diesel, kebutuhan industri, hingga pengembangan bahan bakar berkelanjutan.
Sejalan dengan Target Energi Terbarukan RUPTL
Pengembangan bioenergi juga menjadi bagian dari strategi transisi energi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Dalam skenario ARED, PLN merencanakan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 12,22 GW pada periode 2025–2029 atau sekitar 44 persen dari total tambahan kapasitas pembangkit sebesar 27,9 GW.
Tambahan kapasitas energi terbarukan tersebut terdiri atas PLTS sebesar 5,91 GW, PLTA 3,20 GW, PLTB 1,55 GW, panas bumi 0,95 GW, serta bioenergi 0,61 GW.
Baca Juga: PLN EPI Amankan Kapasitas Proyek LNG, Bidik Hampir 20 Terminal hingga 2029
Baca Juga: PLN EPI Pastikan Pengembangan Biomassa Tanpa Deforestasi
Target bauran energi terbarukan dalam skenario tersebut mencapai 19,7 persen pada 2029.
Hokkop menilai peluang tersebut perlu dimanfaatkan generasi muda, tidak hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai pelaku usaha dalam rantai industri energi bersih.
“Teman-teman bisa menjadi tenaga kerja, pemainnya, agregatornya, dan lain-lain,” ujarnya.
Transisi Energi Buka Ruang Ekonomi Baru
Hokkop menegaskan transisi energi tidak hanya berkaitan dengan perubahan sumber energi, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru.
Menurutnya, generasi muda dapat mengambil peran dalam berbagai sektor, mulai dari tenaga profesional, inovator teknologi, pelaku usaha, hingga agregator dalam ekosistem energi terbarukan.
“Transisi energi bukan hanya tentang mengganti sumber energi dan menurunkan emisi. Di dalamnya ada peluang ekonomi, lapangan kerja baru, dan ruang bagi generasi muda untuk menjadi pelaku utama masa depan energi Indonesia,” tutup Hokkop.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra