Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PLN EPI Pastikan Pengembangan Biomassa Tanpa Deforestasi

PLN EPI Pastikan Pengembangan Biomassa Tanpa Deforestasi Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memastikan pengembangan biomassa untuk mendukung transisi energi dilakukan secara berkelanjutan dan tidak mendorong deforestasi. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya PLN EPI meningkatkan pemanfaatan biomassa untuk program cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan perusahaan menerapkan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk mengevaluasi sumber dan rantai pasok biomassa. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bahan baku yang digunakan memenuhi prinsip keberlanjutan.

“Kami sudah membuat kalkulasi menggunakan LCA. Kami memilih partner dengan meminta mereka memenuhi semua data dari sumber biomassa. Kami anti deforestasi,” tegas Hokkop dalam Panel Discussion #1: Driving Sustainable Forest Development through Biomass and Resilient Forest Management dalam Sweden-Indonesia Sustainability Partnership (SISP) Forestry Industry Session di Park Hyatt Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Menurut Hokkop, sekitar 70 persen biomassa yang dimanfaatkan PLN berasal dari residu, termasuk residu industri kehutanan, industri kertas, serta sektor agro. Pemanfaatan residu tersebut menjadi salah satu cara meningkatkan penggunaan biomassa tanpa harus bergantung pada sumber yang berpotensi mendorong pembukaan hutan.

Di sisi lain, PLN EPI terus meningkatkan volume biomassa yang disediakan untuk kebutuhan pembangkit. Pemanfaatan biomassa untuk kebutuhan PLN pada tahun lalu mencapai sekitar 2,5 juta ton dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 3,4 juta ton tahun ini.

“Tahun lalu kami baru mencapai sekitar 2,5 juta ton. Tahun ini kami akan mencapai sekitar 3,4 juta ton biomassa untuk disediakan kepada seluruh perusahaan kami,” kata Hokkop.

Hokkop mengatakan Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar dan belum sepenuhnya dimanfaatkan. Berdasarkan data yang dihimpun PLN EPI bersama pelaku industri, potensi biomassa dari sektor industri mencapai sekitar 80 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 juta ton telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

“PLN hanya 2,5 juta ton. Namun, meskipun hanya 2,5 juta ton untuk PLN, kami adalah perusahaan terbesar di Asia yang bisa menggunakan biomassa untuk cofiring,” ujar Hokkop.

Besarnya potensi tersebut dinilai membuka ruang bagi biomassa untuk mengambil peran lebih besar dalam bauran energi nasional. PLN EPI memperkirakan masih terdapat sekitar 60 juta ton biomassa dari potensi sektor industri yang dapat dikembangkan. Potensi itu belum memperhitungkan sumber lain, seperti limbah rumah tangga maupun biomassa berbasis air.

Pengembangan biomassa juga dinilai dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru di berbagai daerah. Saat ini, PLN EPI telah melibatkan sekitar 140 perusahaan dalam ekosistem biomassa di berbagai wilayah Indonesia.

Hokkop memperkirakan apabila pemanfaatan biomassa dapat ditingkatkan hingga sekitar 8 juta ton, ekosistem tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 750 ribu orang, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, transportasi dan logistik, hingga aktivitas pendukung lainnya.

“Kami sudah menyampaikan ini kepada Kementerian Tenaga Kerja di Indonesia. Ini merupakan peluang pekerjaan yang besar untuk industri biomassa,” katanya.

Baca Juga: PLN EPI Targetkan Pasokan 3,65 Juta Ton Biomassa untuk 52 PLTU pada 2026

Baca Juga: Tepis Korupsi, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Akui Sudah Kaya Sejak Kecil

Karena itu, PLN EPI mendorong pengembangan ekosistem biomassa dari hulu hingga hilir dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan. Pengembangan tersebut diarahkan tidak hanya untuk menyediakan bahan bakar alternatif bagi pembangkit, tetapi juga menciptakan pasar, memperkuat industri dalam negeri, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Komitmen tersebut sejalan dengan pembahasan dalam SISP Forestry Industry Session, yang merupakan bagian dari Sweden-Indonesia Sustainability Partnership (SISP) Conference 2026 bertema Partnership for Sustainable Forest Development and Management. Forum tersebut membahas pengelolaan hutan berkelanjutan, biomassa, ketahanan hutan, logistik kehutanan, inventori, serta peningkatan produktivitas biomassa.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra