Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Penerapan ekonomi sirkular mulai diarahkan ke lingkungan pendidikan melalui pemanfaatan kembali sampah kemasan pascakonsumsi.
PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (Garudafood) menggunakan material Multilayer Plastic (MLP) hasil daur ulang sebagai bahan pembuatan Dropbox Sampah Kemasan (DSK) yang ditempatkan di sejumlah sekolah di Jawa Barat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari gerakan edukasi "Bijak Jajan Cinta Bumi 2026" yang diperluas ke Kabupaten Sumedang, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung. Program ini menggabungkan edukasi mengenai konsumsi pangan yang aman dengan pengelolaan sampah kemasan.
Peresmian program dilakukan di SD Negeri Tegalkalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (25/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood Dian Astriana, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang Eka Ganjar Kurniawan, serta Head of Business Unit Garudafood Sumedang Doni Sukarno.
Setiap unit DSK yang dipasang di sekolah menggunakan sekitar 42 kilogram sampah MLP hasil daur ulang. Dengan rencana penyediaan 30 unit DSK, kebutuhan material daur ulang tersebut mencapai lebih dari 1,2 ton.
Pemanfaatan MLP daur ulang tersebut menunjukkan pendekatan ekonomi sirkular dengan menempatkan material pascakonsumsi untuk digunakan kembali dalam produk baru. DSK juga berfungsi sebagai fasilitas pengumpulan sampah kertas dan plastik sebelum selanjutnya diangkut dan dikelola oleh mitra pengelola limbah.
Garudafood menggandeng mitra pengelolaan limbah untuk menangani proses pengangkutan dan pengolahan sampah hingga tahap akhir. Skema tersebut diarahkan agar sampah yang dikumpulkan di sekolah tidak berhenti pada tahap pemilahan, tetapi masuk ke dalam proses pengelolaan yang lebih terstruktur.
Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood Dian Astriana mengatakan, edukasi mengenai konsumsi dan pengelolaan sampah perlu dilakukan sejak usia sekolah.
"Bijak Jajan Cinta Bumi merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan diri generasi muda dan kelestarian lingkungan. Kami percaya, kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini di bangku sekolah akan tumbuh menjadi budaya yang mengakar kuat di masa depan," ujar Dian.
Program tersebut sebelumnya telah dilaksanakan di sekolah tingkat SD hingga SMA/SMK di wilayah Surakarta, Jawa Tengah, dengan lebih dari 20.000 penerima manfaat.
Pada 2026, cakupan program diperluas ke Jawa Barat dengan target 30 sekolah dan sekitar 23.000 penerima manfaat pada jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK di wilayah Bandung dan Sumedang.
Materi edukasi dalam program ini mencakup tiga aspek, yakni pemilihan jajanan yang aman dan bergizi, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pengelolaan sampah kemasan secara bertanggung jawab.
Penyampaian materi dilakukan melalui permainan, diskusi, dan simulasi agar siswa dapat memahami sekaligus mempraktikkan kebiasaan tersebut dalam aktivitas sehari-hari.
Adapun, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan, edukasi mengenai makanan sehat dan pengelolaan sampah merupakan bagian dari pembentukan perilaku masyarakat sejak usia dini.
"Pendidikan mengenai jajanan sehat dan pengelolaan sampah adalah bagian penting dari upaya kami membentuk generasi muda Sumedang yang tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan," kata Dony.
Pada tahap awal pelaksanaan di SDN Tegalkalong, sekitar 670 siswa mengikuti kegiatan edukasi. Sekolah tersebut juga menerima DSK untuk menampung sampah kertas dan plastik dari lingkungan sekolah.
Sementara itu, Kepala SDN Tegalkalong Siti Masitoh mengatakan, keberadaan fasilitas pengumpulan sampah dapat membantu sekolah memperkenalkan kebiasaan memilah dan mengelola sampah kepada siswa.
"Kami menyambut sangat baik gerakan Bijak Jajan Cinta Bumi ini. Program ini membantu kami menanamkan kebiasaan jajan sehat dan cinta lingkungan kepada siswa dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami," ujarnya.
Selain penyediaan fasilitas pengumpulan sampah, program tersebut melibatkan siswa dalam Lomba Poster Mini dan Kompetisi Kreasi Daur Ulang. Kegiatan itu diarahkan untuk mendorong siswa memahami isu konsumsi dan pengelolaan sampah melalui aktivitas kreatif.
Perluasan program ke Bandung dan Sumedang sekaligus memperlihatkan bagaimana isu ekonomi sirkular dapat diperkenalkan melalui lingkungan pendidikan. Sampah kemasan tidak hanya diposisikan sebagai residu, tetapi juga sebagai material yang masih dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: