Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekspor Furnitur RI Masih Bergantung AS, Airlangga Dorong Cari Pasar Baru

        Ekspor Furnitur RI Masih Bergantung AS, Airlangga Dorong Cari Pasar Baru Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri furnitur Indonesia masih menghadapi tantangan ketergantungan pada pasar ekspor tertentu. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pun mendorong pelaku industri furniture memperluas pasar internasional untuk mengurangi risiko dari ketidakpastian global.

        Airlangga mengatakan Amerika Serikat (AS) masih menjadi pasar utama furniture Indonesia dengan menyerap sekitar 60% ekspor furnitur nasional. Kondisi tersebut membuat perluasan pasar menjadi penting untuk menjaga kinerja industri furniture di tengah perubahan ekonomi global.

        “Penyelenggaraan IFFINA hari ini menjadi penting sebagai salah satu bentuk sarana memitigasi risiko dengan jalan memperluas pasar, membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional, serta mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar-pasar tertentu,” ujar Airlangga dalam acara International Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA)+ 2026, dikutip dari keterangan resmi, (26/9/2026).

        Menurut Airlangga, industri furnitur memiliki peluang untuk meningkatkan pangsa pasar global. Namun, peluang tersebut perlu ditopang dengan peningkatan kualitas produk, desain, keberlanjutan, promosi dagang, hingga perluasan jejaring dengan pembeli internasional.

        Berdasarkan data pemerintah, neraca perdagangan industri furnitur Indonesia telah mencatat surplus sejak 2021. Pada 2025, ekspor furnitur mencapai US 2,39 miliar, sedangkan impor tercatat US 1,92 miliar . Dengan demikian, surplus perdagangan furniture mencapai US$473,31 juta.

        Meski mencatat surplus, posisi Indonesia di pasar furnitur global masih relatif kecil. Indonesia berada di peringkat ke-25 eksportir furniture dunia pada 2025 dengan pangsa pasar sebesar 0,77%.

        Airlangga juga menyoroti perubahan selera konsumen global yang semakin mengarah pada produk furniture fungsional, mudah disesuaikan, serta menggunakan material ramah lingkungan. Menurutnya, kekuatan Indonesia pada bahan baku kayu dan rotan dapat dimanfaatkan untuk menangkap perubahan permintaan tersebut.

        Baca Juga: Airlangga Melayat Guruh Soekarnoputra: Maestro Seni yang Peduli Sesama

        Produksi kayu bulat Indonesia pada 2024 tercatat mencapai 57,46 juta meter kubik. Sekitar 20% produksi kayu bulat nasional digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan kayu. Indonesia juga menjadi salah satu negara penghasil rotan terbesar dunia dengan produksi lebih dari 80% rotan dunia.

        Di sisi lain, struktur industri furnitur masih didominasi industri kecil dan menengah (IKM). Airlangga mencatat sekitar 99,79% dari total 4,45 juta unit usaha industri merupakan IKM yang menyerap 65,52% tenaga kerja industri.

        “Dengan skala ini, industri tentu masih menghadapi tantangan keterbatasan teknologi, serta terkait produktivitas yang masih dapat ditingkatkan. Dari sisi pasar, pelaku industri juga perlu menyesuaikan diri dengan standar dan regulasi serta selera di negara tujuan,” kata Airlangga.

        Untuk memperkuat industri furnitur, pemerintah menyiapkan sejumlah dukungan, mulai dari insentif PPh Pasal 21 ditanggung pemerintah bagi pekerja yang memenuhi ketentuan hingga akses pembiayaan melalui Kredit Industri Padat Karya.

        Pemerintah juga memberikan dukungan melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan, fasilitasi promosi ekspor, penguatan standar produk dan SVLK, serta penerapan prinsip industri hijau. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperbesar nilai tambah industri furnitur di dalam negeri.

        Airlangga berharap penyelenggaraan IFFINA 2026 dapat membuka transaksi dagang dan kemitraan baru bagi pelaku industri furniture dan kerajinan. Ia juga mengajak buyer, importir, dan investor internasional untuk menjajaki kerjasama dengan pelaku industri Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Istihanah

        Bagikan Artikel: