Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Beneran atau Bualan, Pengaruhnya Jokowi Akan Diuji Lewat Seberapa Kuat Jadinya PSI

        Beneran atau Bualan, Pengaruhnya Jokowi Akan Diuji Lewat Seberapa Kuat Jadinya PSI Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Indonesia ke-7 Joko Widodo (Jokowi) sudah mengumumkan bahwa pihaknya merupakan bagian keluarga besar dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dengan hal itu, pengaruh politiknya kini akan benar-benar diuji jelang kontestasi dari Pemilu 2029.

        Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro menilai deklarasi terbuka tersebut membuat posisi mantan presiden itu sebagai kekuatan politik di luar pemerintahan akan mulai terukur secara konkret.

        Baca Juga: Di Sidang Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo Tak Berani Sebut Dirinya Peneliti

        Keberhasilan Jokowi selama berada di pemerintahan tidak otomatis dapat diterjemahkan menjadi perolehan suara dari PSI. Partai tersebut masih menghadapi pekerjaan rumah besar untuk memenuhi ambang batas parlemen.

        PSI sendiri pada pemilu sebelumnya belum berhasil memperoleh kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kondisi tersebut membuat pemilu selanjutnya menjadi momentum penting untuk mengukur seberapa besar pengaruh Jokowi.

        "Kita tahu 4 persen saja, kemarin mereka belum bisa masuk, walaupun tren kenaikan suara terus meningkat dari pemilu ke pemilu. Trennya naik tapi belum cukup untuk memastikan mereka masuk ke parlemen," ujar Agung, dikutip Senin (28/9/2026)..

        Menurutnya, tren peningkatan suara partai tersebut dari pemilu ke pemilu memang menjadi modal. Namun, kenaikan tersebut belum cukup untuk memastikan partai berlambang gajah itu mampu menembus parlemen.

        Bergabungnya Jokowi karenanya justru menghadirkan pertanyaan besar: apakah pengaruh mantan presiden tersebut mampu mengubah partai tersebut dari partai nonparlemen menjadi kekuatan politik yang memiliki kursi di DPR?

        "Sekarang ketika dia secara terang mendeklarasikan sebagai anggota, hampir setahun, pertanyaannya: apakah pekerjaan rumah ketika beliau menjadi presiden bisa terlunasi ketika tidak menjadi presiden? dan akan kita ketahui bersama ketika pemilu digelar 2029," ucapnya.

        Diketahui, Jokowi mengungkapkan bahwa dirinya memilih memperlihatkan kartu tanda anggotanya karena masih ada pihak yang meragukan statusnya sebagai anggota PSI.

        "Itu sudah 14 Oktober 2025. Sudah setahun yang lalu. Banyak yang nggak percaya, sekarang saya buka saja kartu anggota saya ini," tegas Jokowi.

        Dengan status keanggotaan yang kini diumumkan secara terbuka, mantan presiden itu memiliki ruang lebih besar untuk terlibat dalam aktivitas politik PSI. Namun, ukuran paling konkret mengenai kekuatan politiknya tetap berada pada hasil pemilu.

        Baca Juga: Loyalis Jokowi Bilang Indonesia Bisa Kacau Jika Gibran Benar-benar Dilengserkan Lewat MK

        Jika partai itu berhasil menembus parlemen, langkah tersebut dapat menjadi bukti bahwa pengaruh politikus senior itu masih memiliki daya dorong elektoral. Sebaliknya, jika target itu kembali gagal dicapai, publik akan memiliki ukuran baru mengenai seberapa besar power dari Jokowi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: