Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gangguan Mental Mengancam Produktivitas, Kerugian Bisa Setara 5% PDB

        Gangguan Mental Mengancam Produktivitas, Kerugian Bisa Setara 5% PDB Kredit Foto: Unsplash/Sean Weaver
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gangguan kesehatan mental berpotensi menimbulkan kerugian produktivitas hingga 5% dari produk domestik bruto (PDB) di sejumlah negara yang dikaji dalam laporan Zurich Insurance Group bertajuk The Value of Mental Health yang terbit April 2026.

        Laporan tersebut mengkaji dampak kesehatan mental dari tiga perspektif, yakni people, productivity, dan protection systems, dengan cakupan Australia, Chile, Jerman, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Inggris.

        Pada tingkat individu, seseorang dengan gangguan kesehatan mental berpotensi kehilangan sekitar 60–67 hari hidup sehat setiap tahun. Sementara itu, dampak terhadap kesejahteraan dan kualitas hidup (wellbeing loss) di enam negara yang menjadi cakupan studi diperkirakan mencapai sekitar US$1 triliun per tahun.

        Temuan tersebut dinilai relevan dengan kondisi Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI yang dikutip dalam laporan tersebut, sekitar 28 juta penduduk Indonesia tercatat mengalami gangguan kesehatan mental. Angkanya disebut meningkat dari 6% pada 2013 menjadi 9,8% pada 2018 dan diperkirakan sekitar 20% pada 2023.

        Country Manager dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Edhi Tjahja Negara mengatakan dampak kesehatan mental perlu dilihat dari sisi ekonomi karena berkaitan dengan produktivitas dan ketahanan masyarakat.

        “Berbagai temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental memiliki dimensi yang lebih luas daripada persoalan kesehatan semata, termasuk terhadap produktivitas, kualitas hidup, dan ketahanan ekonomi. Karena itu, upaya menjaga wellbeing perlu dilihat sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh,” kata Edhi dalam keterangan resmi, Senin (28/9/2026).

        Baca Juga: Tak Sekadar Glow Up, Guardian Ajak Mahasiswa Jaga Kesehatan Fisik dan Mental

        Baca Juga: Dampak Mengerikan Karhutla: CELIOS Catat Beban Kesehatan dan Ekonomi Capai Rp123,1 Triliun

        Menurut Edhi, sistem perlindungan juga penting diperoleh sejak dini. Hal tersebut dinilai dapat membantu seseorang tetap terhubung dengan pekerjaan, keluarga, dan komunitas ketika menghadapi risiko kesehatan mental.

        “Dari sisi perlindungan, kami melihat pentingnya bergerak lebih awal, bukan hanya ketika risiko sudah terjadi. Edukasi dan akses terhadap dukungan yang relevan dan tepat waktu menjadi bagian penting untuk membantu individu menjaga kualitas hidup dan tetap terhubung dengan pekerjaan, keluarga, maupun komunitas,” ujar Edhi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: