Kredit Foto: Dokumentasi BGN
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan makanan peserta didik. Pemerintah kini mulai mengembangkan pendekatan baru agar kegiatan makan di sekolah juga bisa menjadi bagian dari proses belajar siswa tentang pangan dan gizi.
Gebrakan tersebut dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui gagasan MBG-JICA Pilot. Program percontohan ini dirancang untuk mengembangkan penerapan pendekatan shokuiku, yakni pengalaman Jepang dalam mengintegrasikan pendidikan pangan dan gizi dengan penyelenggaraan makan di sekolah.
Di Jepang, shokuiku tidak sekadar memberikan pengetahuan mengenai makanan dan gizi. Pendekatan ini juga menekankan pengalaman praktis siswa dalam mengenal makanan, memahami kandungan gizi, hingga melihat proses yang berkaitan dengan penyediaan makanan di sekolah.
Baca Juga: Bukan Lagi Puluhan Tahun, Pemerintah Resmi Putuskan Antrean Haji Dipangkas Jadi...
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, mengatakan pengalaman Jepang tersebut dapat menjadi salah satu referensi untuk memperkaya pengalaman siswa selama mengikuti MBG.
“Melalui kolaborasi ini, kami melihat bagaimana pendekatan shokuiku dapat memperkaya pengalaman anak dalam mengikuti program makan di sekolah. Jadi, makanan tidak hanya diterima dan dikonsumsi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar mengenai pangan, gizi, serta pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaannya,” ujar Prima dalam keterangannya, dikutip Selasa (29/9/2026).
Dalam rencana percontohan MBG-JICA, sejumlah aspek akan menjadi perhatian untuk dikaji. Di antaranya pengurangan sampah dan sisa makanan, peningkatan proses pengiriman serta penyajian makanan, penguatan keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah, hingga pendidikan pangan dan gizi.
Percontohan tersebut dirancang melalui dua komponen yang saling melengkapi, yakni Shokkan Trial di tingkat SPPG dan kegiatan Shokuiku di tingkat sekolah. Shokkan Trial diarahkan untuk memberikan pembelajaran dari sisi penyediaan layanan makanan, sedangkan Shokuiku Kegiatan di sekolah memberi ruang bagi siswa untuk memperkuat pengalaman dalam memahami makanan dan gizi.
Baca Juga: Usai Temui Prabowo, Menhaj Bicara soal Biaya Haji 2027: Kemungkinan...
Menurut Prima, kedua pendekatan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh karena mempertemukan proses penyediaan makanan di tingkat SPPG dengan pengalaman siswa sebagai penerima manfaat MBG.
“Kami ingin melihat keterhubungan antara apa yang terjadi di tingkat SPPG dengan pengalaman anak ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Dari sana, kita dapat mempelajari aspek mana yang dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi,” kata Prima.
Pengembangan MBG-JICA Pilot juga akan mengkaji sejauh mana penyelenggaraan makan di sekolah dapat mendorong keterlibatan siswa. Hal ini mencakup pengalaman mereka selama kegiatan makan, pemahaman terhadap makanan yang dikonsumsi, serta kesadaran mengenai proses dan orang-orang yang terlibat di balik penyediaan makanan sekolah.
“Harapannya, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi referensi untuk terus mengembangkan MBG sesuai dengan konteks Indonesia. Kita ingin memastikan bahwa pengalaman yang diperoleh siswa melalui MBG juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pangan dan gizi,” tutur Prima.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: