Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Berdasarkan data BEI, IHSG berakhir di level 6.121,70. Angka tersebut turun 25,15 poin atau 0,43% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 6.147,85. Setelah itu, indeks bergerak fluktuatif dan sempat tertekan hingga menyentuh level terendah 6.013. IHSG kemudian berbalik menguat dan mencapai level tertinggi 6.150,55 sebelum akhirnya ditutup di zona merah.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 373 saham melemah, sementara 303 saham menguat dan 118 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan juga cukup tinggi. Total volume transaksi mencapai 36,28 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,15 triliun. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,80 juta kali.
IHSG Dihantui Sentimen Tekanan Eksternal
Dalam riset terbarunya, Phintraco Sekuritas memandang IHSG masih dibayangi tekanan eksternal pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Harga minyak mentah yang tinggi serta pelemahan nilai tukar Rupiah menjadi sejumlah sentimen yang perlu dicermati investor.
Phintraco Sekuritas menyebut pergerakan pasar saham domestik juga akan dipengaruhi oleh perkembangan pasar global. Indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026), di tengah tingginya harga minyak dan berlanjutnya aksi jual di pasar obligasi Amerika Serikat (AS).
Tekanan dari pasar obligasi tercermin dari imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun yang naik lebih dari 5 basis poin hingga mencapai 5,234% pada 28 September 2026.
Baca Juga: Saham GOTO Kian Anjlok Jadi Rp37, Nilai Investasi Telkomsel Tergerus Rp5,53 Triliun
Baca Juga: Kiamat Gocap! 4 Saham Grup MNC Milik Hary Tanoe Ambruk hingga ARB
Baca Juga: BCA Diguncang Transaksi Rp621 Miliar! 100 Juta Saham Berpindah di Tengah Isu Haji Isam
Investor global selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi AS. Data indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan dirilis pada Rabu (30/9/2026), disusul data nonfarm payrolls September pada Jumat (2/10/2026).
"Kedua data tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS," tulis riset Phintraco Sekuritas.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah memang sempat turun dari level tertinggi hariannya pada 28 September. Namun, harga minyak masih menjadi perhatian karena berada pada level tinggi dan berpotensi menjaga tekanan inflasi global.
Sementara itu, harga emas terkoreksi lebih dari 3% dan berada di sekitar US$4.148 per troy ounce. Pergerakan komoditas tersebut turut mencerminkan tingginya volatilitas di pasar global.
Dari sisi domestik, pelemahan Rupiah menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan IHSG. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap sentimen investor, terutama ketika dolar AS menguat dan yield obligasi AS masih berada di level tinggi.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan tekanan terhadap IHSG masih berlanjut. Setelah indeks gagal bertahan di atas level 6.200, IHSG diproyeksikan menguji area support berikutnya di kisaran 6.000-6.100.
Pada perdagangan Senin (28/9/2026), IHSG ditutup anjlok 1,51% atau 94,03 poin ke level 6.147,85. Tekanan terjadi cukup luas dengan 532 saham melemah, sementara 180 saham menguat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: