Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Airlangga Sebut Kebutuhan Energi RI Capai 800 TWh pada 2030, Data Center Jadi Perhatian

        Airlangga Sebut Kebutuhan Energi RI Capai 800 TWh pada 2030, Data Center Jadi Perhatian Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut keandalan dan keterjangkauan pasokan energi menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

        Dengan asumsi target pertumbuhan ekonomi 8%, kebutuhan energi Indonesia pada 2030 diperkirakan mencapai 700–800 terawatt hour (TWh).

        Jumlah tersebut lebih dari 2 kali lipat dari konsumsi listrik nasional saat ini yang dicatat oleh PT PLN (Persero) sebesar 317 terawatt hour (TWh).

        "Untuk itu, tentu keandalan dan keterjangkauan pasokan energi menjadi penting, dan kebutuhan energi diperkirakan di tahun 2030 antara 700 sampai 800 terawatt hours," ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

        Airlangga menjelaskan, peningkatan kebutuhan energi ke depan salah satunya berkaitan dengan perkembangan sektor berbasis teknologi, seperti artificial intelligence (AI), digitalisasi, dan pusat data.

        "Nah dengan demikian kalau energinya tersedia, maka untuk mendukung artificial intelligence atau digitalisasi, data center itu menjadi sangat penting dan data center ini adalah industri yang momentumnya 3 sampai 4 tahun ke depan," lanjutnya.

        Airlangga mengatakan negara-negara di dunia saat ini tengah berlomba mengembangkan industri pusat data. Di Indonesia, kapasitas pusat data dalam waktu dekat diperkirakan mencapai sekitar 1,5 gigawatt.

        Ia mencontohkan pengembangan Nongsa Digital Park yang fase pertamanya telah penuh dan saat ini memasuki tahap ekspansi. Selain itu, kawasan Karawang-Bekasi juga disebut mengalami perkembangan yang cepat.

        "Dan kemarin kita kembangkan yang di Nongsa Digital Park, fase pertama sudah fully sold out. Nah ini ekspansinya sedang diproses dan di daerah Karawang-Bekasi juga tumbuhnya sangat cepat. Jadi ini yang perlu kita terus dukung," lanjutnya.

        Di sisi lain,PT PLN (Persero) mencatat konsumsi energi perusahaan data center di Indonesia telah mencapai 2.378 gigawatt hour (GWh), dengan total kapasitas tersambung sebesar 2.038 megavolt ampere (MVA). Jumlah tersebut diserap oleh 159 pelanggan data center yang saat ini resmi tercatat sebagai pelanggan PLN.

        Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati, menyebut sebaran data center tersebut masih terkonsentrasi pada sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali, dengan Jawa Barat menjadi salah satu klaster data center terbesar.

        “Kami percaya ini baru permulaan. Kecerdasan buatan, cloud computing, layanan digital, serta pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala yang sangat signifikan,” ungkap Dini dalam gelaran Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten.

        Baca Juga: Rupiah Melemah, IHSG Ambruk 2%, Airlangga Cuma Bilang: Namanya Juga Market

        Baca Juga: Ekspor Furnitur RI Masih Bergantung AS, Airlangga Dorong Cari Pasar Baru

        Namun, pengembangan data center mulai merambah ke luar wilayah tersebut, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Seiring dengan perluasan tersebut, kebutuhan pasokan listrik dari sektor teknologi diperkirakan terus meningkat, sehingga diperlukan perencanaan infrastruktur ketenagalistrikan yang selaras dengan karakteristik kebutuhan di masing-masing wilayah.

        Untuk itu, PLN mendorong pendekatan early alignment atau koordinasi sejak tahap awal pengembangan. Hal ini penting agar pengembangan pembangkit dan jaringan dapat selaras dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan data center ke depan.

        “Komitmen lebih awal dan koordinasi lebih erat dari kedua belah pihak, didukung oleh proyeksi permintaan yang lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, kecepatan pengembangan kapasitas yang tepat, serta kerja sama yang lebih kuat antara PLN, pelanggan, dan pemerintah. Oleh karena itu, pengelolaan komitmen pusat data harus menjadi proses perencanaan bersama,” pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: