- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Pekerja Film Terjepit Pajak, Amar Bank Soroti Buruknya Tata Kelola Keuangan
Kredit Foto: Istimewa
Pekerja industri kreatif berbasis proyek (project-based), seperti editor film dan casting director, masih menghadapi berbagai kendala dalam pelaporan pajak pribadi. Salah satu persoalannya muncul dari sistem pembayaran proyek dengan nilai kontrak sekaligus (lump sum) yang mencakup berbagai kebutuhan produksi.
Dalam sesi media interview di Jakarta, Selasa (29/9/2026), penyunting film sekaligus perwakilan Indonesian Film Editors (INAFED), Aline Jusria, mengatakan sistem pembayaran proyek kerap membuat penerima kontrak utama menanggung kewajiban pemotongan pajak untuk seluruh nilai kontrak.
Menurut Aline, nilai kontrak yang diterima tidak sepenuhnya merupakan penghasilan pribadi. Sebagai contoh, kontrak senilai Rp50 juta bisa mencakup honor editor, honor asisten, biaya sewa studio, hingga transportasi.
“Nilai kontrak Rp50 juta, misalnya, tidak hanya berisi honor editor, tetapi juga honor asisten, biaya sewa studio, hingga transportasi. Namun, karena kontrak diterbitkan atas nama satu orang, beban pemotongan pajak sering kali ditanggung sepenuhnya oleh penyunting utama. Karena itu, edukasi mengenai skema pemotongan dan pencatatan pajak antar-tim sangat dibutuhkan,” ujar Aline.
Persoalan tidak berhenti pada pembagian beban pajak. Pencatatan keuangan yang masih bercampur antara kebutuhan pribadi dan operasional proyek juga dapat menyulitkan pekerja kreatif ketika harus memenuhi kewajiban perpajakan.
Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane mengatakan kepatuhan pajak yang baik perlu didukung pencatatan transaksi yang tertib dan terpisah sejak awal.
Melalui platform Amar Bank Business, pekerja lepas (freelancer) dapat memisahkan rekening untuk kebutuhan operasional proyek dan dana pribadi. Platform tersebut juga menyediakan fitur multiple-user yang memungkinkan pengelolaan dan pemantauan pengeluaran bersama secara lebih transparan.
Baca Juga: Di Balik Gemerlap Industri Film, Pekerjanya Masih Sulit Akses Bank
Baca Juga: Laba VICI Jatuh 44%, Harapan Bangkit Dibebankan ke Semester II
“Dua hal yang paling sering memicu kepanikan pelaku usaha maupun freelancer adalah kebutuhan dana mendadak dan saat menerima surat konfirmasi dari kantor pajak. Jika arus kas masuk dan keluar untuk proyek dan pribadi tidak dibedakan secara terstruktur, laporan keuangan akan terlihat tidak valid. Pencatatan yang rapi melalui teknologi memudahkan pembuktian kewajiban pajak sekaligus meningkatkan bankability,” kata Josua.
Amar Bank menilai edukasi mengenai literasi keuangan dan perpajakan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem perfilman yang lebih berkelanjutan. Dengan pencatatan keuangan yang lebih tertib, pekerja kreatif diharapkan dapat memenuhi kewajiban perpajakan secara akurat tanpa mengganggu stabilitas keuangan pribadi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: