Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jokowi Merasa Terisolasi dan Ditinggalkan, Pengamat Sebut Ada Sesuatu di Balik Pengumuman Gabung PSI

        Jokowi Merasa Terisolasi dan Ditinggalkan, Pengamat Sebut Ada Sesuatu di Balik Pengumuman Gabung PSI Kredit Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ada alasan politik di balik keputusan pengakuan bergabungnya Eks Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hal itu disebut-sebut bukan hanya terkait dengan pilpres, namun juga masa depan politik dari Jokowi.

        Pengamat Politik Hendri Satrio (Hensa) menilai keputusan tersebut muncul ketika mantan presiden itu merasa ruang politiknya semakin terbatas. Jokowi menurutnya tengah merasa terisolasi dan ditinggalkan di tengah sejumlah dinamika politik yang berkembang.

        Baca Juga: Sinyal Tinggalkan Prabowo, Jokowi Mulai Bangun Jalannya Sendiri dengan PSI

        “Kenapa Pak Jokowi kemudian mengumumkan September 2026? Ini karena dia merasa terisolasi. Menurut catatan saya, dia merasa terisolasi, ditinggalkan,” ujar Hensa dalam tayangan di kanal YouTube Hendri Satrio Official, dikutip Rabu (30/9/2026).

        Menurut Hensa, momentum pengumuman tersebut tidak bisa dilepaskan dari perdebatan mengenai parliamentary threshold. Situasi itu disebut membuat mantan presiden itu membutuhkan kendaraan politik yang dapat memperlihatkan bahwa dirinya masih mempunyai kekuatan.

        PSI kemudian menjadi kendaraan tersebut. Jokowi dengan bergabung ke partai tersebut dinilai sedang mengirimkan pesan bahwa dirinya tidak kehilangan seluruh basis politik setelah meninggalkan pemerintahan.

        “Dia merasa ingin dilihat sebagai kekuatan baru yang tidak bisa dianggap remeh. Oke, lu bisa mengisolasi gue, tidak ikutan bicarakan threshold, tapi jangan meremehkan saya. Saya punya kendaraan, dan ini bisa jadi kekuatan baru,” tutur Hensa.

        Kehadiran Jokowi pada akhirnya perlu dilihat sebagai upaya membangun kekuatan politik baru. PSI tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi anak mantan walikota itu, tetapi juga dapat menjadi instrumen bagi keluar politikus itu untuk mempertahankan daya tawar politik.

        “PSI pasti akan diuntungkan dengan itu, tapi apakah kemudian mereka bisa melonjak dengan hadirnya Jokowi? Ya, kita mesti ada hitung-hitungan politik lain,” katanya.

        Jokowi menurutnya seolah ingin memastikan dirinya tetap memiliki kendaraan politik ketika konfigurasi kekuatan nasional terus berubah. Bagi Hensa, pesan utamanya adalah mantan presiden itu tidak ingin dianggap kehilangan pengaruh setelah meninggalkan Istana.

        Sebelumnya, Jokowi resmi menjadi anggota partai berlambang gajah tersebut sejak 14 Oktober 2025. Namun, status tersebut baru ditegaskan secara terbuka setelah dirinya menunjukkan kartu tanda anggota dalam Rakorda DPD PSI Kota Bandung di Grand Pasundan.

        Jokowi bahkan membacakan nomor keanggotaannya di hadapan kader dan publik. Langkah tersebut dinilai memiliki makna politik lebih besar daripada sekadar mengonfirmasi keanggotaan, yakni seperti sinyal bahwa ada modal politik baru yang dimiliki oleh PSI.

        “Sudah setahun yang lalu. Banyak yang nggak percaya, sekarang saya buka saja kartu anggota saya ini,” tegas Jokowi.

        Politikus senior itu juga menyatakan tidak mempermasalahkan berapa pun angka parliamentary threshold yang nantinya ditetapkan.

        Baca Juga: Klaim Besar Tekanan, Denny Indrayana Kesulitan Cari Saksi untuk Gugatan Pencalonan Gibran di MK

        “Saya sampaikan, mau parliamentary threshold 5 persen, oke, nggak masalah. Mau parliamentary threshold 6 persen, nggak masalah. Mau parliamentary threshold 7 persen, nggak masalah. Mau parliamentary threshold 8 persen, nggak masalah,” kata Jokowi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: